Lagi Demam Drakor, Bisnis Makanan Korea Laris Manis

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 02 Des 2020 18:24 WIB
Stall I LIKE K-FOOD
Ilustrasi/Foto: dok. I LIKE K-FOOD & istock
Jakarta -

Group Chairman Korea Malaysia Trade (KMT) Datuk Matthew Lee mengaku kehadiran drama Korea (Drakor), film-film Korea, dan musik Korea (K-POP) berpengaruh besar pada pertumbuhan perusahaannya.

"Permintaan akan makanan Korea tumbuh pesat baik dari sisi kuantitas, market, dan juga jenis-jenisnya. Permintaannya terus-menerus meningkat. Misalnya saja dari pasar, terakhir kali kita itu hanya memasok ke supermarket, tapi belakangan ini minimarket, warung-warung juga menyediakan produk makanan Korea. Biasanya permintaan hanya datang dari kota-kota besar, tapi misalnya saja di Malaysia, dari kawasan pesisir juga," kata Lee dalam virtual event Reimagine: Halal in Asia 2020 yang bertema Asia's Golden Age: 2021 and Beyond for Halal Ecosystem, Rabu (2/12/2020).

Produsen mie Nongshim itu mengaku, ada beberapa Drakor yang punya andil besar dalam pertumbuhan permintaan akan produknya, dan juga makanan Korea lainnya. Misalnya saja, Drakor berjudul Winter Sonata yang rilis pada tahun 2002.

"Sebenarnya ini sudah sangat lama, sudah lebih dari 10 tahun lalu di mana ada satu Drakor yang sangat hits di Malaysia yaitu Winter Sonata. Setelah Drakor itu rilis, warga Malaysia mulai menyukai Drakor dan juga film-film Korea," imbuh Lee.

Tak hanya Drakor itu, seri televisi Korea berjudul Dae Jang Geum juga menarik perhatian masyarakat berbagai negara untuk mengkonsumsi produk makanan Korea.

"Ada juga Drakor lain yang hits di Malaysia Dae Jang Geum yang menceritakan sejarah makanan Korea. Sejak itu, banyak Drakor dan film Korea yang menceritakan makanan Korea, dan masyarakat mulai memahami makanan Korea," jelas Lee.

Selain Drakor, ia mengaku variety show Korea juga berperan dalam mengenalkan makanan Korea ke kancah dunia.

"Dan ada juga variety show Korea, Running Man dan juga variety show 1 Night 2 Days. Nah variety show ini sangat mempengaruhi masyarakat Malaysia sehingga lebih memahami makanan Korea, dan juga cara hidup masyarakat Korea," ujarnya.

Khususnya di tengah pandemi Corona ini, ia mencatat permintaan akan produk gochujang, atau pasta cabai khas Korea meningkat, terutama di Malaysia. Menurutnya, masyarakat dari negara lain juga mulai menggemari memasak makanan Korea di rumahnya, tak hanya sekadar membeli makanan instan atau jadi.

"Selama pandemi Corona ini, yang permintaannya tertinggi adalah gochujang. Nah, gochujang ini sebenarnya adalah saus sambal khas Korea, tapi bukan untuk dimakan langsung, melainkan untuk bahan memasak, atau tepatnya bumbu. Tapi tak disangka gochujang sangat populer selama pandemi. Ternyata, masyarakat Malaysia mulai memasak makanan Korea sendiri di rumahnya," pungkas Lee.

(eds/eds)