Mengintip Strategi Perusahaan Teknologi yang Kuasai Dunia Selama Pandemi

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 03 Des 2020 10:37 WIB
Aplikasi berbagi Airbnb.
Foto: (iStock)
Jakarta -

Perusahaan teknologi besar dunia semakin memperkuat cengkeraman mereka pada ekonomi global selama pandemi COVID-19. Sekarang, mereka tengah mempersiapkan diri untuk menghadapi apa yang akan terjadi selanjutnya.

Melansir CNN, Kamis (3/12/2020), seperti Airbnb dan DoorDash bisa mengumpulkan miliaran dolar melalui penawaran umum perdana. Lalu ada akuisisi perusahaan platform perpesanan Slack (WORK) Salesforce seharga hampir US$ 28 miliar yang merupakan pertaruhan untuk masa depan pekerjaan.

Pekan ini memang begitu banyak aksi korporasi dari perusahaan teknologi. Hal itu terlihat dari kesibukan para bankir investasi yang membantu perusahaan mempersiapkan strategi bisnis setelah 2020 berakhir.

Kehadiran vaksin yang semakin terbukti aman dan efektif telah memberikan sentakan kepercayaan kepada investor. Sehingga memudahkan perusahaan untuk memulai debutnya di Wall Street dengan menawarkan janji pertumbuhan bisnis di masa depan.

Airbnb pada hari Selasa mengungkapkan bahwa mereka berencana untuk menjual saham dalam kisaran harga US$ 44 hingga US$ 50. Jika dilihat dari batas atas harga saham itu Airbnb akan bernilai lebih dari US$ 30 miliar.

Jika penawaran dilanjutkan dengan US$ 47 per saham, kesepakatan itu dapat mengumpulkan hingga US$ 2,5 miliar. Dana itu sangat penting bagi perusahaan yang sudah melewati tahun yang sangat menantang ini. Selama masa pandemi ini Airbnb terhantam karena seluruh masyarakat dunia lebih memilih diam di rumah.

Aplikasi pengiriman DoorDash juga mengatakan bahwa IPO-nya dapat mengumpulkan US$ 2,54 miliar jika harga sahamnya di level US$ 80.

Sementara itu, perusahaan teknologi lain meningkatkan eksposur mereka ke komputasi awan dan layanan yang mendukung pekerjaan jarak jauh, yang telah menjadi titik terang selama pandemi.

Salesforce (CRM), yang menjual perangkat lunak manajemen pelanggan berbasis cloud dan aplikasi perusahaan lainnya, mengatakan akuisisi Slack, yang diumumkan Selasa, akan membantu meningkatkan penawaran bisnisnya.

"Bersama-sama, Salesforce dan Slack akan membentuk masa depan perangkat lunak perusahaan dan mengubah cara semua orang bekerja di dunia serba digital, bekerja dari mana saja," kata CEO Salesforce, Marc Benioff.

Ini bukan hanya fenomena di AS. Setelah menjual hampir US$ 100 miliar aset, konglomerat Jepang SoftBank (SFTBF) kembali ke mode beli. Sinch, perusahaan cloud dan telekomunikasi Swedia, mengatakan minggu ini bahwa SoftBank telah mengakuisisi 10% saham perusahaan tersebut, yang merupakan saham dengan kinerja terbaik di Eropa tahun ini.

Dan pembuat smartphone China Xiaomi mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka mengumpulkan lebih dari US$ 3 miliar untuk investasi strategis dan ekspansi di pasar utama.

(das/zlf)