3 Fakta Tentang Isu 'Perkawinan' Rp 1.000 T Grab-Gojek

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 03 Des 2020 20:00 WIB
Massa driver ojek online (ojol) berdemo di depan Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (28/2/2020). Mereka meminta Wakil Ketua Komisi V Nurhayati Monoarfa mundur.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kabar penggabungan usaha atau merger Gojek dan Grab semakin kencang. Dilansir dari Tech in Asia, jika kabar itu benar maka keduanya disebut bisa menghasilkan omzet hingga US$ 16,7 miliar atau setara Rp 242 triliun per tahun, sedangkan valuasinya bisa mencapai US$ 72 miliar atau sekitar Rp 1.000 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.500 pada 2025.

Ditulis Kamis (3/12/2020), berikut 3 perkembangan tentang 'perkawinan' Gojek dan Grab:

1. Perbedaan Pendapat Semakin Kecil

Mengutip Bloomberg, Rabu (2/12/2020), berdasarkan salah satu sumber yang tidak mau disebutkan namanya menyebut detail akhir kesepakatan merger sedang dikerjakan di antara para pemimpin paling senior di setiap perusahaan. Dengan partisipasi Masayoshi Son dari SoftBank Group Corp., investor utama Grab.

Dikabarkan, salah satu pendiri Grab Anthony Tan akan menjadi CEO dari entitas gabungan, sementara eksekutif Gojek akan menjalankan bisnis gabungan baru di Indonesia dengan merek Gojek.

Lanjut halaman berikutnya>>>

Selanjutnya
Halaman
1 2