Bisnisnya Terancam, Pengusaha Bioskop Kecam Warner Bros

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 04 Des 2020 11:45 WIB
Ilustrasi bioskop
Ilustrasi/Foto: iStock
Jakarta -

Salah satu rumah produksi Hollywood, Warner Bros dari AT&T Inc akan menampilkan debut semua filmnya pada 2021 di bioskop. Di hari yang sama, dia juga akan memutar filmnya pada layanan streaming HBO Max.

Hal itu dianggap bisa membunuh bisnis bioskop. Operator bioskop tidak menerima rencana tersebut. CEO AMC Entertainment Holdings Inc Adam Aron mengatakan Warner Bros mengorbankan keuntungan di studio filmnya untuk meningkatkan HBO Max.

"Kami akan melakukan sebisa mungkin bahwa Warner tidak melakukannya. Kami akan secara agresif mengejar persyaratan ekonomi yang menjaga bisnis kami," kata Aron dikutip dari Reuters, Jumat (4/12/2020).

Sebelumnya, Warner Bros mengumumkan akan menayangkan film seperti 'Godzilla vs. Kong' dan 'The Suicide Squad' di HBO Max selama satu bulan, dimulai pada hari yang sama ketika mereka tayang di bioskop.

"Mortal Kombat versi baru dari Dune dan sekuel Matrix juga akan ditayangkan" kata perusahaan.

Perubahan tersebut dipimpin oleh CEO Warner Media Jason Kilar, yang merupakan langkah paling agresif dan menjadi perubahan pertama kalinya karena pandemi COVID-19. Keputusan itu sempat mengejutkan Hollywood.

Kilar, Mantan Eksekutif Amazon.com Inc mengambil alih divisi media AT&T pada bulan Mei dan telah merestrukturisasi bisnis untuk fokus pada HBO Max, yang bakal jadi pesaing baru untuk Netflix Inc.

Eksekutif Warner Bros mengatakan strategi tersebut dipicu oleh pandemi COVID-19 yang telah membatasi bioskop dan membuat banyak bioskop tutup.

"Kami tahu konten baru adalah inti dari pameran bioskop, tapi kami harus menyeimbangkannya dengan kenyataan bahwa sebagian besar bioskop di AS kemungkinan besar akan beroperasi dengan kapasitas yang lebih kecil sepanjang tahun 2021," kata CEO WarnerMedia Studios and Networks Group, Ann Sarnoff.

Bagi konsumen, menonton di rumah bisa lebih murah daripada harus pergi ke bioskop. HBO Max mengenakan biaya US$ 15 atau setara Rp 211 ribu (kurs Rp 14.100/US$) dalam satu bulan, sedangkan biaya rata-rata dua tiket film di AS mencapai US$ 18,32 atau Rp 258 ribu pada 2019.

Perwakilan Cinemark mengatakan Warner Bros belum membagikan detail rencananya dan akan membuat keputusan pemesanan jangka pendek per film.

Seperti diketahui, bisnis bioskop telah terpukul pandemi sehingga terpaksa memberhentikan para pekerja dan meminjam dana untuk tetap bertahan. Cinemark dan AMC telah mencapai kesepakatan dengan Comcast Corp's Universal Pictures, untuk menayangkan film yang bisa ditonton di rumah setelah 17 hari diputar di bioskop.

Walt Disney Co juga telah memindahkan beberapa film dari bioskop ke layanan streaming Disney+. Perusahaan diharapkan dapat mengungkap rincian tentang rencana streaming pada 11 Desember.

(eds/eds)