Pandemi COVID-19, Pertanian Jadi Bisnis Menjanjikan untuk Milenial

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Sabtu, 05 Des 2020 18:13 WIB
Tik-Talk (Tani Inspiratif Kekinian Talkshow)
Foto: Kementan
Jakarta -

Komitmen Kementerian Pertanian (Kementan) untuk menjaga ketahanan pangan serta regenerasi petani mulai terlihat hasilnya. Di beberapa daerah mulai bermunculan petani-petani milenial dengan berbagai produk pertanian yang dikembangkan, sehingga produk pertanian tidak lagi mendapatkan stigma tradisional karena sudah lebih modern dan kekinian.

Para petani milenial ini saling berbagi semangat untuk terjun di bidang pertanian pada acara Tik-Talk (Tani Inspiratif Kekinian Talkshow) 'Bisnis Pertanian Itu Asyik' yang digelar di Gedung PIA Kementan, Jakarta, Jumat (4/12).

Salah satu peserta adalah Didi Kurniasandi, petani milenial yang berkonsentrasi pada komoditas labu madu. Bagi Didi, pertanian merupakan usaha yang tidak akan mengalami surut karena dibutuhkan oleh orang banyak. Ia pun mengajak kaum muda agar mau terjun ke dunia pertanian.

"Pertanian itu sangat asik, ga melulu dengan cangkul, kan bisa dengan mesin atau traktor. Kita di pertanian itu harus coba dulu, lima puluh persen berhasil atau tidak. kalau tidak mencoba berarti seratus persen gagal. Peluang ini sangat besar di agribisnis, selama manusia membutuhkan makanan, pertanian pasti jaya," kata Didi dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (5/2/2020).

Senada dengan Didi, founder jamu 'Mbak Suni' Baghcandani menyampaikan bahwa sejatinya ada banyak jalan untuk berhasil kala menggeluti bidang pertanian, misalnya dengan menggunakan media digital marketing.

"Sekarang digital marketing lagi on-on nya, kita ngga perlu ngeluarin banyak modal, kita e-commerce dan kita menggunakan medsos, tidak menggunakan biaya tinggi. Kita bisa aja pake influencer misalnya. Untuk menggeluti bisnis di pertanian, pasti ada jalannya. Semuanya dilakukan dari hati, karena yang keluar dari hati akan bertahan lama," ungkap Baghcandani.

Lebih lanjut, konsep pemasaran pada penanganan pasca-panen usaha pertanian turut diulas oleh Baghcandani dalam rangka mengubah mindset konsumen agar dapat menerima hasil olahan produk pertanian yang dihasilkannya.

Untuk mengembangkan varian dari jamu, bahan-bahan alami, berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang, daun-daunan, kulit batang, dan buah lainnya diproses kemudian dikemas, sehingga menjadi produk yang menarik.

"Gimana caranya orang ngga takut sama jamu dan mau mencoba jamu kita, secara psikologi jamu kita bawa ke jamu yang rasanya enak seperti kunyit asem, beras kencur, kita develop dengan teknik nyampur-nyampur dengan rasa kekinian," imbuhnya.

Terkait hal ini Yosef, seorang penyedia jasa profesional sekaligus konsultan hidroponik menyebutkan bahwa di tengah pandemi COVID-19 seperti sekarang ini, sektor pertanian menjadi bidang usaha yang menjanjikan, terlebih bagi kaum muda.

"Kini siapa sih yang ngga butuh pertanian, di masa COVID-19 ini pertanian jadi usaha yang paling menjanjikan untuk kita." kata Yosef.

Pengembangan konsep usaha pertanian, lanjut Yosef, bisa digabung dan dikembangkan sesuai dengan permintaan dan keinginan pasar.

"Cafe dengan desain tanaman yang enak dilihat, ngga usah yang mahal. Hidroponik di depan halaman cafe dengan hijauan dari hidroponik dan tambahan gemericik air, itu menjadi poin. Mau sayuran daun atau sayuran buah, selada, pakcoy, tomat, terong, pokoknya semua tanaman jenis buah sayur yang bisa." paparnya.

Di sisi lain, Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Kuntoro Boga Andri menyampaikan peran petani milenial sebagai kunci utama dalam menjaga keberlanjutan ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, Kuntoro berharap petani milenial dapat menjadi inspirasi bagi seluruh anak muda Indonesia.

"Bisnis pertanian selalu menjanjikan, bahkan di saat pandemi ini. Pertanian itu penting, apalagi dengan semangat kaum muda, karena dengan semangat usaha kita dapat membangun ketahanan pangan, semoga bisa dicontoh oleh yang lainnya," pungkasnya.

(mul/mpr)