Alasan, Peran dan Tugas Prabowo di Proyek Food Estate

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 06 Des 2020 07:48 WIB
Presiden Jokowi dan Menhan Prabowo Subianto berbincang di proyek lumbung pangan di Kalteng
Foto: Laily Rachev-Biro Pers Setpres
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah membagikan tugas kepada para menterinya yang mendapatkan jatah untuk menggarap proyek Food Estate. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto turut mendapatkan tugas dalam program jangka panjang ini.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko pun membeberkan mengenai keterlibatan Prabowo dalam proyek ini. Dia menjelaskan, strategi perang menjadi alasan Prabowo diikutsertakan dalam proyek ini. Menurutnya pangan merupakan bagian dari pertahanan sebuah wilayah.

"Bagaimana sebuah wilayah, pulau-pulau besar itu mampu mandiri dalam mempertahankan pulau itu, konsepnya seperti itu. Maka kita mengenal namanya kompartemenisasi, jadi masing-masing wilayah, pulau-pulau besar itu mampu menghadapi serangan apabila ada invasi dari luar," terangnya saat berbincang dengan detikcom.

"Kalau kita membuat imajinasi seperti itu maka setiap wilayah harus punya ketahanan di bidang logistiknya," tambahnya.

Mantan Panglima TNI itu menjelaskan, dalam peperangan ada yang namanya pertempuran berlarut. Artinya peperangan dalam jangka panjang. Dalam tahap peperangan itu, ketersediaan pangan menjadi kunci untuk memenangkan perang.

"Perang berlarut itu membutuhkan logistik yang banyak. Sebagai contoh seperti Irak kemarin, begitu dia tidak bisa bertahan, dia mundur saat itu dia melakukan gerilya dan di situlah perang berlarut berjalan. Bertahun-tahun dia harus menghadapi, menjaga momentum peperangan itu," ucapnya.

Dengan alasan itulah Prabowo yang memimpin Kementerian Pertahanan diikutsertakan dalam proyek Food Estate. Menurutnya Kalimantan ataupun Sumatera sebagai pulau yang besar harus memiliki ketahanan pangan.

Menariknya lagi, TNI juga dikerahkan dalam proyek pangan ini. Moeldoko menjelaskan peran TNI dalam proyek lumbung pangan hanya sebatas pendampingan. Mereka diturunkan untuk memberikan pendampingan kepada para petani yang menggarap lahan.

"Sebenarnya sekarang pun ada MoU antara Kementerian Pertanian dengan (TNI) Angkatan Darat. Konteksnya sebenarnya itu lebih supporting. Jadi menurunkan para Babinsa untuk memberikan dorongan kepada pada petani. Karena culture yang harus dibangun di sektor pertanian adalah culture disiplin," terang Moeldoko.

Menurutnya disiplin merupakan salah satu kunci penting dalam keberhasilan program Food Estate. Nah para TNI yang terbiasa dengan hal itu akan mendampingi para petani agar bekerja secara disiplin.

"Culture disiplin itu diperlukan karena tanaman itu sangat punya jadwal yang rigid. Saatnya nyemprot hama itu terlambat sedikit bahaya, saatnya memupuk terlambat akan berbahaya. Untuk itu kehadiran TNI para Babinsa khususnya untuk mendampingi para petani itu lebih kepada supporting. Dia tidak terlibat secara langsung begitu. Jadi sebenarnya tadi itu lebih memberikan motivasi lebih mendampingi mereka," ucapnya.

(das/zlf)