Bila Gojek dan Grab Jadi Merger, Siapa Untung Siapa Buntung?

Herdi Alif Alhikam - detikFinance
Senin, 07 Des 2020 07:30 WIB
Gojek-Grab Kawin
Foto: Gojek-Grab 'Kawin' (Tim Infografis Fuad Hasim)

Maxim sendiri menanggapi wajar isu merger Gojek dan Grab, mereka menilai wajar jika keduanya bergabung karena desakan dari para investor.

Development Manager Maxim, Imam Mutamad Azhar menilai Grab dan Gojek memiliki investor yang sama.
Imam memandang jika kebijakan merger tersebut dapat menjadi monopoli. Namun, dia membiarkan agar masyarakat sendiri yang menilai dan merespons nantinya jika merger tersebut benar terjadi.

"Kami tidak melihat hal itu sebagai sesuatu yang fair apalagi ke pasar. Tapi biar market yang menilai, katanya karya anak bangsa, tapi bangsanya siapa," kata Imam kepada detikcom, Jumat (4/12/2020).

Sementara itu, sebelumnya Ketua Umum Asosiasi Driver Online (ADO) Taha Syafaril menolak keras rencana merger Gojek dan Grab. Penggabungan kedua entitas itu dinilai dapat melanggar hukum dan bisa menimbulkan monopoli.

"Itu merupakan upaya penguasaan bisnis transportasi online di Indonesia dan secara UU ini pelanggaran hukum, ini monopoli. Kami tidak setuju," kata pria yang akrab disapa Ariel ini saat dihubungi detikcom, Kamis (3/12/2020).


(zlf/zlf)