Harga BBG Naik Hampir 2X Lipat

Harga BBG Naik Hampir 2X Lipat

- detikFinance
Senin, 30 Jan 2006 15:47 WIB
Jakarta - Selain menaikkan harga BBM non subsidi, PT Pertamina (persero) juga menaikkan harga Bahan Bakar Gas (BBG) hampir dua kali lipat. Harga BBG yang sejak 22 November 2005 lalu ditetapkan sebesar Rp 1550/Liter Setara Premium (LSP) dinaikkan menjadi Rp 3000/LSP mulai 1 Februari 2006. Harga baru tersebut ditetapkan berdasarkan SK Dirut Pertamina No. KPts-02/C0000/2006-S3 tanggal 26 Januari 2006. Menurut juru bicara Pertamina, M Harun, kenaikan harga BBM tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga gas bumi dari US$ 2,23/MMBTU (Juta British Thermal Unit/Satuan Panas) menjadi US$ 5/MMBTU seiring dengan kenaikan harga minyak mentah. Namun menurut Harun, harga BBG masih jauh lebih murah 35 persen dibandingkan penggunaan premium dan 33 persen lebih murah dibanding minyak solar. "BBG adalah bahan bakar ramah lingkungan yang merupakan bisnis murni Pertamina yang tidak mendapatkan subsidi," jelas Harun dalam penjelasan tertulis yang diterima detikcom, Senin (30/1/2006).Menurut Harun, bisnis BBG kurang berkembang dan kurang diminati investor karena rendahnya tingkat pengembalian dan juga rendahnya volume kendaraan pemakai BBG. Volume penjualan untuk 2005 tercatat hanya sebesar 12.500 kilo LSP dengan jumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) yang beroperasi hanya 18 SPBG di Jakarta. Kenaikan harga ini juga memberikan kenaikan margin kepada SPBG dari Rp 430/LSP menjadi Rp 980/LSP atau jauh diatas margin penjualan premium di SPBU sebesar Rp 172/liter. "Kenaikan ini diharapkan dapat mendorong investor untuk berinvestasi di SPBG, meningkatkan jumlah kendaraan pemakai BBG, menghemat biaya energi serta mengurangi polusi udara di kota-kota besar. Apabila jumlah SPBG semakin banyak akan menarik konsumen pemakai BBG karena selama ini keluhan konsumen adalah terbatasnya jumlah SPBG," jelas Harun.BBG pertama kali dikenalkan untuk sektor transportasi pada 1987 dengan jumlah kendaraan pemakai sebesar 300 unit. Namun hingga tahun 2000, jumlah kendaraan pengguna mencapai 6.633 dan volume penjualan sebesar 30.000 KLSP. Jumlah ini terus merosot dan hingga saat ini jumlah kendaraan pemakai tidak lebih dari 1.000 unit dengan volume 12.500 KLSP per tahun. Penurunan volume ini juga berdampak pada operasional penjualan BBG. Dari 21 unit SPBG di Jawa dan Sumatera hanya 11 unit yang beroperasi dengan tingkat pemanfaatan yang sangat rendah yakni sekitar 18% dari kapasitas.Namun menurut Harun, penggunaan BBG pada 2006 diperkirakan akan meningkat seiring dengan pemakaian produk bahan bakar ini untuk program Busway di Jakarta dan diharapkan dapat diikuti oleh kendaraan umum lainnya. Pertamina juga berharap bisnis BBG lebih menarik dan tidak lagi merugi mengingat untuk tahun 2005 Pertamina mengalami kerugian sebesar Rp 10,4 miliar akibat kenaikan biaya energi dan tingginya biaya operasional di SPBG. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads