Turis ke Bali Wajib PCR, Biro Travel: Merepotkan!

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 16 Des 2020 12:06 WIB
Pegadang menjalani test swab PCR di Pasar Petojo Encek, Jakarta, Kamis (11/6/2020). Sebanyak 42 pedagang menjalani test swab pcr yang dilakukan oleh petugas kesehatan puskesmas kecamatan Gambir.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata (Asita) mengkritisi kebijakan pemerintah bahwa ke Bali wajib PCR bagi pengguna pesawat. Sebab, kebijakan itu dinilai membebani masyarakat yang akan berkunjung ke Pulau Dewata.

"Biaya PCR kan tidak murah ya, pasti mahal. Nah, ini pasti akan membebani masyarakat yang akan melakukan perjalanan wisata ke Bali," kata Wakil Ketua Asita Budijanto Ardijansjah saat dihubungi detikcom, Rabu (16/12/2020).

Bahkan menurutnya bisa-bisa biaya tes PCR lebih mahal ketimbang tiket pesawatnya. Untuk itu pihaknya menyayangkan ke Bali wajib tes PCR.

"Yang jadi masalah kadang-kadang harga PCR-nya saja sudah seharga tiketnya, lebih mahal, betul. Itu yang kita sayangkan," sebutnya.

Tak hanya itu, ke Bali wajib PCR juga merepotkan karena hasil tes usap atau swab yang disertakan setidak-tidaknya H-2 sebelum keberangkatan.

"Itu juga yang masih membingungkan ya, karena rata-rata PCR kan ada yang hasilnya baru tiga hari, itu bukan antigen lho, tapi PCR, bukan swab antigen. Kalau yang darat kan swab antigen, kalau udara kan PCR," jelasnya.

Mengingat ke Bali wajib PCR dengan syarat hasilnya keluar paling tidak H-2, jadi menurutnya para pelancong yang hendak ke ke sana harus menjadwalkan diri dengan cermat, dan tentu itu dianggap merepotkan.

"Nah PCR ini bagaimana caranya 2 hari, ya kan berarti orang harus dihitung dan artinya orang harus meluangkan waktu lagi, sebelum berangkat itu mereka harus mengatur jadwal swab mereka dan sebagainya, itu cukup merepotkan sebenarnya," tambahnya.

(toy/zlf)