Sri Mulyani Beberkan Kelebihan Perempuan Jadi Pemimpin

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 16 Des 2020 22:43 WIB
Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menghadiri rapat kerja perdana bersama Komisi XI DPR RI. Raker itu salah satunya membahas evaluasi kinerja APBN 2019.
Menkeu Sri Mulyani Indrawati/Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berbicara soal kesetaraan gender, dan juga peran perempuan dalam membuat kebijakan yang berpengaruh pada negara, bahkan dunia. Menurut Sri Mulyani pemimpin perempuan juga lebih sensitif dalam menciptakan kebijakan untuk masyarakat.

"Kalau bicara pemimpin perempuan, mungkin mereka lebih sensitif dan secara natural memahami bagaimana sebuah rumah tangga bisa tertekan, dan ketika membuat kebijakan. Saya pikir pemimpin perempuan cenderung lebih sensitif. Cara mereka berpikir dan merancang kebijakan itu dengan menggunakan empati dan pemahaman rinci, kritis, dan memperhatikan kesetaraan untuk semua kalangan," kata Sri Mulyani dalam seminar internasional yang digelar oleh International Budget Partnership (IBP) yang disiarkan virtual, Rabu (16/12/2020).

Khususnya di tengah pandemi virus Corona (COVID-19), ia menilai perempuan juga menanggung beban besar, tak hanya pria.

"Saya memiliki 84.000 pegawai di Kementerian Keuangan. Sebagian besar dari mereka sudah berkeluarga dan pegawai perempuan sebagai ibu punya beban yang lebih besar. Bukan hanya karena pandemi memaksa mereka harus di rumah, tapi juga mereka harus bekerja dari rumah, dan pada saat yang sama anak mereka harus sekolah dari rumah. Anak-anak itu membutuhkan guru di rumah. Jadi orang tuanya, terutama sang ibu harus menanggung beban yang lebih besar dari sang ayah. Saya yakin ini juga terjadi di semua negara," ujarnya.

Sementara itu, dalam menangani pandemi Corona di Indonesia, Sri Mulyani menilai ada beberapa program yang memang harus langsung ditujukan pada perempuan. Contohnya bantuan sosial (Bansos) untuk keluarga di kelas menengah bawah.

Menurut Sri mulyani Bansos itu disalurkan pemerintah dengan syarat yakni diterima oleh sang ibu.

"Jaringan pengaman sosial yang kami tingkatkan 3 kali, sebagian besar ditujukan untuk membantu keluarga di kelas menengah bawah, bantuannya itu harus diterima oleh Ibu sebagai kepala keluarga. Sehingga, bantuan itu digunakan dengan baik, terutama untuk pendidikan anak," imbuh dia.

Sri Mulyani menambahkan peran perempuan tak hanya di satu area saja, seperti perekonomian rumah tangga atau negara, tapi juga punya peran besar di bidang lainnya.

"Jadi itulah kenapa kita membicarakan bagaimana kaum wanita bisa mendorong perannya dalam ekonomi, politik, dan di area lainnya," tandas dia.

(hns/hns)