Di Hari Ibu, Sri Mulyani Dapat Curhatan 3 Supermom

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 22 Des 2020 15:24 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Eduardo Simorangkir
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati hari ini menggelar dialog dari hati ke hati dengan para supermom pejuang ekonomi di Hari Ibu. Ada tiga Ibu yang mencurahkan perjuangannya, terutama dalam perekonomian di lingkungannya.

Pertama, seorang Ibu bernama IGA Agung Widiastuti atau biasa dipanggil Widi yang merupakan Direktur Yayasan Kalimajari. Widi mendirikan yayasan itu untuk mendukung pengembangan kinerja petani kakao di Bali sampai ke pasar ekspor. Ia juga merupakan Pembina Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) di Desa Nusasari, di Kabupaten Jembrana, Bali yang mendukung pembiayaan petani kakao.

Kepada Sri Mulyani, ia bercerita sempat mengalami kendala dalam melakukan ekspor kakao karena banyak pembeli dari luar negeri yang membatalkannya. Hal itu disebabkan pandemi virus Corona (COVID-19) yang mewabah di dunia.

"Di bulan April kami mendapatkan tiga pembatalan PO (pre order), dari Prancis, Belanda, dan Jepang. Dan coklat processing di Bali hampir semua kolaps karena pandemi. Tapi kami tidak menyerah, siang malam kalau di kita tidur, tapi di Eropa baru bekerja. Jadi jam 11 malam kami masih telepon buyer sana-sini, agar PO yang dia batalkan bisa berlanjut. Sampai pada akhirnya kami mendapatkan PO kembali," kata Widi dalam dialog Hari Ibu yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Keuangan, Selasa (22/12/2020).

Ibu kedua yang bercerita perjuangannya ke Sri Mulyani di hari ibu adalah Maya, produsen dan pedagang suvenir dari Semarang yang sempat kesulitan berdagang karena pandemi Corona.

"Awalnya saya menjual suvenir saja. Tapi karena kondisi pandemi, kondisi sulit, tidak mungkin saya menghentikan semua karyawan saya karena pandemi. Karena usaha saya ini memberdayakan perempuan di lingkungan saya, tetangga saya," jelas Maya.

Melihat banyak orang yang rajin memasak saat pandemi, Maya berpikir untuk menjual celemek atau apron. Ternyata, celemek buatannya itu laris manis di pasar.

"Apron itu saya mendapat ide dari Facebook. Saya lihat teman di Facebook itu banyak yang pamer masakan. Jadi saya melihat setelah pandemi banyak org yg lari ke dapur. Pria, wanita, semuanya itu larinya ke dapur. Jadi saya berpikir wah ini kalau saya jual apron mungkin laku juga. Setelah omzet yang runtuh semua, saya langsung bikin apron. Dan syukurlah bisa diterima. Saya juga jual di Facebook. Ada yang beli juga," katanya.

Berlanjut ke halaman berikutnya.