Wahyu Trenggono: dari Bisnis Tower Kini Urus Lobster

ADVERTISEMENT

Wahyu Trenggono: dari Bisnis Tower Kini Urus Lobster

Trio Hamdani - detikFinance
Selasa, 22 Des 2020 16:30 WIB
Wakil Menteri Pertahanan Sakti Wahyu Trenggono
Sakti Wahyu Trenggono/Foto: Herdi Alif Al Hikam
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) resmi menunjuk Sakti Wahyu Trenggono menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP). Sakti menggantikan Edhy Prabowo. Sebelumnya dia merupakan Wakil Menteri Pertahanan.

"Beliau Wakil Menteri Pertahanan akan berikan tanggung jawab untuk jadi Menteri Kelautan Dan Perikanan," kata Jokowi saat pengumuman, Selasa (22/12/2020).

Berdasarkan catatan detikcom, Sakti lama berkecimpung di dunia bisnis. Dia menjabat sebagai Komisaris Utama PT Solusindo Kreasi Pratama. Perusahaan ini membawahi PT Tower Bersama Infrastruktur, penyedia infrastruktur menara telekomunikasi terbesar di Indonesia yang memiliki lebih dari 14.000 menara. Karena jabatannya ini, dia kerap dijuluki sebagai Raja Menara.

Sakti Wahyu Trenggono memulai kariernya di PT Federal Motor (sekarang PT Astra Honda Motor) sebagai System Analyst pada tahun 1986 dengan jabatan terakhir sebagai General Manager Management Information System dan Pengembangan Bisnis (1992-1995).

Kemudian dia menjabat sebagai Direktur Perencanaan dan Pengembangan Induk Koperasi Unit Desa (INKUD) (1995-1997), Direktur Utama PT Solusindo Kreasi Pratama (2000-2009), Ketua Umum Asosiasi Pengembang Infrastruktur Menara Telekomunikasi (2005-2016) dan Komisaris Utama PT Teknologi Riset Global Investama (2010-2016).

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang akan dia pimpin diketahui sedang menjadi sorotan, khususnya isu mengenai benih lobster yang menyeret Edhy Prabowo sebagai tersangka korupsi. Tentu lobster menjadi salah satu pekerjaan yang menanti Sakti begitu dilantik menjadi MKP.

Menurut Pengamat Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah, dari sisi profesionalitas, Sakti sudah cukup memenuhi kriteria sebagai Menteri KP.

"Saya kira pas saja, kalau memang itu diterima semua pihak, asal Gerindranya setuju, masalahnya Gerindra-nya ikhlas nggak?" tutur Trubus Senin (21/12/2020).

(toy/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT