Ekonomi Rontok Kena Dampak Corona, Bagaimana Bisnis Budi Daya Ikan?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 24 Des 2020 11:30 WIB
eFishery
Foto: Sudirman Wamad
Jakarta -

Ekonomi Indonesia terkena dampak pandemi COVID-19. Hal itu tercermin dari banyaknya bisnis yang lesu, tak terkecuali bisnis budi daya ikan.

Di tengah pandemi, budi daya ikan mengalami tantangan dalam pendistribusian hingga akses permodalan. Kondisi tersebut justru kemudian mendorong kinerja startup akuakultur seperti eFishery.

Di tahun 2020 ini, eFishery mencatatkan peningkatan pendapatan hingga empat kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Tercatat terjadi peningkatan hingga 287,2% pada year-on-year Gross Merchandise Value (GMV) di tahun 2020 ini.

"Di tahun ini kami secara agresif mengoptimalkan lini bisnis kami selain eFisheryFeeder, yaitu eFisheryFund untuk akses terhadap pendanaan, eFisheryFeed untuk penyediaan pakan, dan eFisheryFresh untuk pendistribusian produk hasil budidaya," kata Co-founder dan CEO eFishery, Gibran Huzaifah dalam keterangannya, Kamis (24/12/2020).

"Hal ini dilakukan karena kami melihat pembudidaya ikan mengalami kesulitan dalam mendapatkan modal usaha, terbatasnya pakan yang tersedia di retailer, dan juga kendala dalam penyaluran hasil budidayanya," tambahnya.

eFisheryFund memberikan akses dan menghubungkan pembudidaya ikan secara langsung dengan institusi keuangan. Fitur utama dari eFisheryFund adalah Kabayan (Kasih Bayar Nanti), yaitu program cicilan yang dapat dimanfaatkan oleh para pembudidaya untuk memperoleh produk eFishery seperti eFisheryFeeder dan pakan ikan.

Selama tahun 2020, eFisheryFund telah menjalin kerja sama dengan berbagai institusi keuangan, seperti BRI, Alami Sharia, dan Investree. Hingga saat ini, lebih dari 800 pembudidaya telah didukung oleh eFisheryFund dengan total pinjaman yang disetujui mencapai lebih dari Rp 50 miliar. Selain itu, pembudidaya memiliki fleksibilitas dalam pengembalian pinjaman karena eFisheryFund menawarkan tenor hingga 6 bulan. Skema ini banyak membantu pembudidaya yang usahanya nyaris tutup akibat pandemi.

Pandemi COVID-19 secara signifikan membuat perekonomian Indonesia mengalami pukulan dan mengguncang sektor UMKM, termasuk sektor perikanan budidaya. Di awal pandemi, permintaan ikan mengalami penurunan hingga 20%. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain oleh permintaan pasar yang turun, pasar horeka (hotel, restoran, dan kafe) yang masih lesu, dan akses untuk berpindah ke pasar online yang belum maksimal.

"eFishery berfokus untuk meningkatkan dampak sosial yang dapat membantu menjaga usaha para pembudidaya tetap berjalan. Salah satu langkah yang kami lakukan adalah dengan menarik ikan hasil panen pembudidaya dan mengolahnya menjadi produk beku demi menambah nilai jual dan memperpanjang masa konsumsi. Dengan demikian, hasil panen dapat disimpan lebih lama sehingga mengurangi risiko terbuangnya hasil panen," terangnya.

Gibran menambahkan, melalui eFisheryFresh ikan yang ditarik dari pembudidaya kemudian disalurkan ke berbagai channel dengan jalur B2B. Selama tahun 2020 ini, lebih dari 1.000 ton ikan telah ditarik dari puluhan kelompok tani dari berbagai daerah di Indonesia.



Simak Video "Budidaya Ikan dalam Ember, Solusi Bertahan Hidup di Tengah Pandemi"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/dna)