Jokowi Setuju Diskon Pajak Mobil Baru, Sri Mulyani?

Trio Hamdani - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 06:11 WIB
Presiden Jokowi dalam ratas program mitigasi dampak COVID-19 terhadap UMKM
Presiden Joko Widodo (Jokowi)/Foto: Rusman - Biro Pers Sekretariat Presiden
Jakarta -

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengusulkan diskon Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) untuk pembelian mobil baru. Itu sudah disampaikan langsung kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dirinya menyatakan Jokowi sudah setuju terhadap usulan yang diajukannya olehnya. Jadi, sisanya tergantung Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati selaku bendahara negara.

"Jadi ini memang suatu hal yang sudah kita usulkan dan saya sudah laporkan ke Bapak Presiden, dan secara prinsip beliau setuju," kata Agus dalam konferensi pers akhir tahun 2020 secara virtual, Senin lalu (28/12/2020).

Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor (Gaikindo) Yohannes Nangoi pernah menjelaskan terkait diskon pajak alias keringanan pembayaran PPnBM sebesar 50%.

"Jadi usulan kita adalah relaksasi untuk bukan semua pajak, hanya salah satu pajak yaitu yang PPnBM, ya 50% saja," kata dia saat dihubungi detikcom 19 Oktober 2020.

Dia meyakini penurunan PPnBM mobil bisa meningkatkan penjualan. Artinya kontribusi pajak ke pemerintah bisa lebih besar walaupun jika dihitung per unit mobil berkurang 50%.

Lantas, seperti apa respons Sri Mulyani atas usulan diskon pajak tersebut? Baca di halaman selanjutnya.

Agus menjelaskan, kementerian yang dipimpin oleh Sri Mulyani itu belum memberikan lampu hijau atas usulan pemberian diskon pajak mobil baru.

"Jadi, kita memang masih belum mendapatkan green light dari Kementerian Keuangan," katanya.

Dirinya pun memahami bila Kementerian Keuangan belum memberikan restu atas relaksasi PPnBM tersebut.

"Ini wajar saja untuk mereka karena mereka merupakan bendahara negara yang tentu mereka punya penilaian sendiri, posisi sendiri, yang mereka kelola itu kan sebagai bendahara negara kan harus lebih komprehensif," sambung dia.

Dirinya pun menerangkan bahwa sektor industri otomotif sudah mulai tumbuh setelah ikut terkena hantaman pandemi virus Corona (COVID-19). Namun, dia tak menyebutkan angkanya.

Di sisi lain, meskipun industri otomotif mulai tumbuh, sektor tersebut menurutnya yang paling lambat untuk mencapai titik seperti sebelum pandemi COVID-19. Untuk itu perlu adanya perhatian lebih dari pemerintah.

Terlebih banyak industri turunan dari sektor otomotif, mulai dari yang skala besar hingga kecil sehingga harus betul-betul diproteksi secara serius.

"Ini salah satu sektor industri yang akan lebih lama mencapai titik normal dibandingkan ketika sebelum COVID-19 datang ke Indonesia, tapi terus akan kami kawal," tambahnya.

(toy/ara)