Kaleidoskop 2020

5 Bisnis Raup yang Cuan Meski Serangan Corona Merajalela

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 30 Des 2020 16:01 WIB
Pelaku usaha budi daya ikan cupang mendapatkan berkah di tengah pandemi COVID-19. Dalam sehari bisa meraup keuntungan hingga Rp 1 juta lebih.
Foto: Dok. pribadi Ekawati: Bisnis tanaman hias
Jakarta -

Pandemi virus Corona (COVID-19) mengguncang dunia usaha. Mulai dari bisnis pariwisata, penerbangan, properti, aktivitas ekspor-impor, dan sebagainya tergerus dampak pandemi. Di sisi lain, ada sejumlah bisnis yang boleh dibilang tetap kuat meski dihantam Corona.

Bahkan, masih bisa cuan. Apa saja bisnis tersebut?


1. Bisnis Frozen Food

Di saat bisnis lain berjatuhan karena pandemi virus Corona, bisnis makanan beku atau frozen food justru kian melejit. Masyarakat makin melirik frozen food karena mudah dimasak di rumah, selain itu dapat disajikan ketika masih hangat. Tentunya, akan berbeda dengan makanan jadi yang dipesan, lalu diantar ke rumah.

Salah satu pedagang frozen food yang meraup cuan besar selama pandemi ialah Ronal Mediansyah. Sebelumnya, ia memiliki bisnis team building dan outdoor games provider. Sayangnya, bisnisnya itu terpaksa ditutup sementara selama PSBB demi mencegah penyebaran virus Corona.

Ia pun memutuskan mengembangkan bisnis makanan frozen food yang diberi nama Parkia Food. Sebelum memilih frozen food, Ronal sempat kepikiran untuk menjual produk sayuran segar, namun gugur karena dirasa terlalu ketat persaingannya dengan brand yang sudah ada.

Adapun frozen food yang ia jual antara lain kambung guling, seafood, burger, kebab, dan ebi tempura. Modalnya untuk memulai bisnis itu tak besar, hanya sekitar Rp 5 juta - Rp 10 juta. Akan tetapi, selama 1,5 bulan berjalan, ia sudah mampu mengumpulkan omzet hingga Rp 30 juta.

"Modal awal dan costnya itu tidak terlalu tinggi karena kita tidak perlu dapur dan tempat khusus seperti itu, waktu itu kurang lebih Rp 5-10 jutaan ya untuk beli bahan dan belajar ngolahnya itu, nah untuk omzet itu kurang lebih Rp 20-30 jutaan," ungkap Ronal.

Pemasarannya dimulai melalui akun Instagram bisnis barunya itu, yakni @parkiafood. Tingginya aktivitas di media sosial selama pandemi sangat membantu penjualan bisnis frozen food miliknya itu. Tak hanya itu, ia juga secara agresif memasarkan produknya kepada teman, keluarga dan pelanggan di bisnis sebelumnya.

"Kami jual online dari media sosial Instagram, lalu dari Whatsapp kita blast ke teman, keluarga dan kita juga email ke pelanggan Parkia Adventure juga," jelas dia.

2. Bisnis Sepeda Laris-Manis

Pandemi Corona menimbulkan 'demam bersepeda' di Indonesia. Fenomena itu mulai terasa sesudah perayaan Lebaran 2020, tepatnya sejak bulan Juni 2020, di mana kebijakan PSBB mulai dilonggarkan, dan masyarakat sudah boleh beraktivitas di luar rumah secara bertahap. Fenomena itu pun menyebabkan permintaan akan sepeda meningkat, dan para pedagang sepeda diserbu masyarakat.

Salah satu pusat penjualan sepeda di Ibu Kota, yakni Pasar Rumput yang berlokasi di Jakarta Selatan pun diserbu. Mulai dari masyarakat yang menggunakan sepeda langsung untuk dirinya, sampai para pedagang toko sepeda pinggiran juga menyerbu Pasar Rumput untuk mengisi kekosongan stok di tokonya.

Sejumlah pedagang di Pasar Rumput mengaku, penjualan melonjak drastis, dan minimal bisa menjual 5 sepeda per hari. Para pedagang sepeda di Pasar Rumput mengaku penjualannya naik lebih dari 50%.

Tak hanya di Ibu Kota, para pedagang sepeda di Kota Bandung juga diserbu masyarakat. Sumitro, pedagang sepeda di Jalan Veteran Kota Bandung mengatakan, penjualannya naik lebih dari 100% pada Juni 2020 lalu, sehingga omzetnya tembus ratusan juta rupiah.

"Sekitar 50 unit dalam satu bulan. Kenaikan 1005, omzet per bulan mencapai Rp 200-250 juta," ujar Sumitro, Selasa (23/6/2020)

'Demam bersepeda' itu juga menyebabkan produsen kewalahan memenuhi permintaan. Ketua Asosiasi Industri Persepedaan Indonesia (AIPI) Rudiyono mengatakan melonjaknya permintaan sepeda membuat para produsen meningkatkan kapasitas produksi hingga 30%.

"Kita sudah ngobrol sama anggota, kenaikan produksi 20-30%. Penjualan juga sekitar itu," kata Rudiyono kepada detikcom, Sabtu (20/6/2020).

Ia mengaku, anggota AIPI cukup terkejut dengan melonjaknya permintaan sepeda secara mendadak. Pasalnya, di awal penyebaran virus Corona, kinerja produsen sepeda cukup terpuruk hingga beberapa pabrik menghentikan produksinya dan berencana merumahkan karyawan.

"Ini kondisinya sebenarnya teman-teman nggak menyangka. Sama sekali nggak menyangka. Padahal sebelumnya sudah ada yang ancang-ancang untuk merumahkan. Bahkan pada bulan-bulan Maret ada yang sementara nggak produksi," jelas Rudiyono.

Ia mengatakan, kejutan ini berhasil membuat para produsen sepeda batal melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) karyawannya.

"Alhamdulillahnya jadi sementara nggak perlu di-PHK," ujarnya.

Masih ada 3 bisnis lain yang cuan selama pandemi. Langsung klik halaman berikutnya.