Airlangga Harap Vaksin Jadi Pendorong Pertumbuhan Ekonomi hingga 5%

Nurcholis Ma - detikFinance
Selasa, 05 Jan 2021 09:28 WIB
Airlangga Hartarto
Foto: Nurcholis Ma'arif
Jakarta -

Pemerintah merencanakan melakukan vaksinasi pada minggu kedua Januari 2021 di sejumlah daerah di Tanah Air. Saat ini pelaksanaan vaksinasi masih menunggu BPOM mengeluarkan Emergency Use Authorization dan MUI mengeluarkan sertifikat kehalalan.

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto meyebut vaksin COVID-19 ini diharapkan menjadi salah satu game changer yang akan mewujudkan target perekonomian nasional mencapai 4,5 hingga 5 persen pada tahun 2021.

Optimisme ini muncul setelah melihat kondisi ekonomi Indonesia yang sudah mampu melewati rock bottom pada kuartal kedua tahun 2020, yakni -5,32%. Sementara pada kuartal ketiga (Q3) sudah menunjukkan tren positif, yaitu -3,49%.

"Diperkirakan sampai akhir tahun pertumbuhan ekonomi kita minus 2,2 hingga minus 0,9. Namun kita melihat bahwa di Januari ini atau sepanjang tahun 2021 ini APBN kita didesain untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di angka 5 persen," kata Airlangga yang juga Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) itu dalam keterangannya, Selasa (5/1/2021).

Dalam acara talk show di salah satu tv swasta Senin malam, Airlangga juga menyatakan sejumlah lembaga ekonomi internasional seperti World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 4,4%. Sedangkan IMF memprakirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 6,1%, dan ADB 5,3%.

"Tentu kita juga harus melihat dinamika dari pandemi COVID," tambah Airlangga.

Saat ini dinamika pandemi COVID-19 di berbagai negara, seperti di Inggris, telah muncul strain baru. Sejumlah negara ASEAN seperti Thailand khususnya Kota Bangkok, kembali mengambil langkah pengetatan. Begitu pula di Tokyo, Jepang.

Menurut Airlangga, optimisme pemerintah itu harus didorong dengan penanganan pandemi COVID-19. Saat ini, tiga juta vaksin sudah dikirimkan ke berbagai daerah. Diharapkan pertengahan Januari 2021 vaksinasi sudah bisa dilakukan secara bertahap.

Iklim investasi di Indonesia pada tahun 2021 juga diharapkan semakin baik. Airlangga menyatakan salah satu instrumen pertumbuhan itu, pertama, dari APBN yang memberi stimulus untuk mendongkrak daya beli masyarakat.

Kedua, masyarakat cukup percaya diri untuk melakukan konsumsi. Saat ini confident level itu sudah meningkat dan konsumsi masyarakat sudah bergerak.

Ketiga, pada awal Januari indeks saham gabungan (IHSG) sudah kembali ke level 6100-an sehingga timbul optimisme positif. Keempat, rupiah menguat ke level 13.890 per dolar AS pada 4 Januari 2021.

Airlangga juga menyatakan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur sudah 51,3 dan ini terus konsisten.Masih ada indikator lain, tambah Airlangga, yakni kontainer mulai sulit didapat yang menandakan ekspor Indonesia terus mengalami pelonjakan.

"Dasar-dasar ini cukup kuat untuk (secara) fundamental, mengatakan bahwa ekonomi kita pada tahun 2021, dengan berbagai asumsi tersebut, akan lebih baik dibandingkan tahun lalu," ujarnya.

Vaksinasi terhadap 182 juta penduduk Indonesia juga diharapkan dapat mendorong daya beli masyarakat. Vaksinasi akan dilaksanakan pada pertengahan Januari 2021 sampai kuartal pertama tahun 2022 atau 15 bulan.

Saat ini terdapat pula kenaikan harga-harga komoditas yang menjadi andalan Indonesia seperti kelapa sawit, nikel, tembaga dan emas juga relatif tinggi. "Demikian pula harga batubara," ungkap Airlangga.

Komoditas ini jika didorong dengan hilirisasi yang baik maka bisa menjadi pengungkit perekonomian. Kembali ke soal meningkatnya konsumsi masyarakat karena dorongan pelbagai stimulus, Airlangga mengingatkan Indonesia masih memiliki pendorong lain pertumbuhan ekonomi, yakni Peraturan Pemerintah sebagai turunan dari UU Cipta Kerja.

Kedua peraturan yang sudah ditandatangani Presiden Joko Widodo itu menyangkut masalah lembaga pengelola investasi. Sesuatu yang akan menjadi game changer Indonesia.

(mul/mpr)