Pasar Kondominium Paling Terganggu Pelemahan Ekonomi
Sabtu, 04 Feb 2006 14:02 WIB
Jakarta - Di antara semua sektor properti yang ditawarkan, kondisi pasar kondominium di tahun 2006 ini paling terkena dampak atas melemahnya ekonomi nasional yang terjadi sejak kenaikan harga BBM Oktober tahun lalu.Melemahnya ekonomi memicu turunnya daya beli masyarakat, sehingga konsumen mulai mengurangi investasi hunian kelas atas dan super eksklusif.Hasil riset PT Procon Indah yang diterima detikcom, Sabtu (4/2/2006) menyebutkan, dampak menurunnya kondisi ekonomi untuk tahun 2006 hanya akan terlihat di sektor kondominium dalam bentuk berkurangnya proyek-proyek yang ditawarkan secara pre-sales.Kombinasi antara inflasi yang mempengaruhi daya beli dan kenaikan suku bunga, menyebabkan banyak konsumen melakukan pemindahan dana ke investasi yang lebih likuid seperti deposito.Tingkat penyerapan kondominium di tahun 2005 hanya sebanyak 5.702 unit lebih rendah 27,6 persen dibanding tahun 2004 yang sebesar 7.875 unit.Untuk tahun 2006, pasokan kondominium diperkirakan mencapai 11.200 unit. Namun pertumbuhan pasar ini diperkirakan relatif stabil. Pengembang akan melakukan penawaran secara hati-hati hingga perekonomian Indonesia agak stabil.Sementara penyesuaian biaya servis (service charge) yang selama ini tertunda, kemungkinan akan dilaksanakan pada tahun ini dengan kenaikan sekitar 15-25 persen.Untuk properti perkantoran pada tahun 2006 ini diperkirakan akan tetap positif, meski pada kuartal I-2006 ini akan sedikit menurun karena besarnya pasokan baru.Sedangkan properti untuk pasar ritel hingga tahun 2007 diperkirakan masih akan didominasi oleh pusat-pusat perbelanjaan hipermarket seperti Hypermart, Carrefour, Giant, serta department store asing baru di beberapa pusat perbelanjaan utama di Jakarta.
(ir/)











































