1.400 Restoran Terancam Tutup Imbas PSBB Ketat DKI

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Sabtu, 09 Jan 2021 16:03 WIB
Sejumlah tempat usaha di Sunter, Jakarta Utara, disegel petugas gabungan, Kamis (23/9/2020). Penyegelan dilakukan karena melanggar PSBB.
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Pengusaha restoran menilai kebijakan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan membatasi operasional restoran akan mengganggu bisnis, bahkan sampai bisa tutup. Pembatasan operasional restoran merupakan bagian dari PSBB ketat yang diterapkan Anies Baswedan mulai 11 hingga 25 Januari nanti

Wakil Ketua Umum PHRI Bidang Restoran Emil Arifin mengatakan dari catatan pihaknya hingga November 2020 saja sudah ada 1.030 restoran tutup. Saat pembatasan operasional berlaku kemungkinan jumlah restoran tutup akan melonjak hingga 1.400.

"Saya kira terakhir aja ya itu ada 1.030 (restoran) yang tutup pada November 2020, dengan pembatasan sekarang ini mungkin bertambah 1.300-1.400 mah ada," ujar Emil kepada detikcom, Sabtu (9/1/2021).

Emil mengatakan para pengusaha lebih baik mereka menutup restorannya. Pasalnya, dengan pembatasan dine in hanya 25% plus waktu operasional yang cuma sampai pukul 19.00 WIB hal itu membuat pendapatan pengusaha restoran cuma mencapai 15-20%.

Sementara itu untuk operasional sehari-hari, restoran membutuhkan banyak biaya, mulai dari listrik hingga gaji karyawan.

"Kalau saya kira, teman-teman (pengusaha restoran) ini ya, kita malah milihnya lebih baik tutup aja sekalian, kalau buka terbatas pendapatan cuma 15-20% aja dari normal. Uang sewa tempat aja butuh 30% dari pendapatan harian. Belum lagi listrik, gaji karyawan, dan lain-lain," ujar Emil.

"Mending tutup, ini kapasitas 50% juga udah rugi ini lagi diturunkan," sambung Emil.

Menurut Emil penutupan restoran itu bisa saja berlangsung permanen. Apalagi kalau kondisi seperti terus berlangsung.

"Ada beberapa ini bisa jadi permanen juga tutupnya. Jadi tutup sementara kalau nggak ada kejelasan abis juga lah mereka uangnya kan," ungkap Emil.

Masalah bukan cuma datang dari timpangnya pendapatan dan biaya operasional saja. Emil menilai pembatasan yang dilakukan Anies Baswedan pada kapasitas kantor juga membuat pelanggannya, yang kebanyakan orang kantoran juga berkurang.

Belum lagi jam operasional cuma boleh hingga pukul 19.00 WIB, padahal itu adalah jam-jam makan malam. Emil bilang tanpa dibatasi pun restoran sudah jelas akan kosong, makanya banyak pengusaha memilih tutup saja.

"Lagipula ini ya siangnya kan orang kantor WFH juga, malam ditutup. Nggak usah dibatasin aja udah otomatis kosong itu," ujar Emil.

"Restoran kan income-nya siang dan malam, siang saja sampai 50-55%, nah kalau siang customernya ngga ada, malam nggak boleh buka nggak usah dibatasi otomatis kosong," lanjutnya.

(hns/hns)