Menyoal Pesawat Kelamaan Parkir dan Risiko Kecelakaan Penerbangan

Tim detikcom - detikFinance
Minggu, 10 Jan 2021 23:00 WIB
Pesawat Sriwijaya Air keluar landasan di Bandara Kendari, Sabtu (20/7/2019).
Foto: Sitti Harlina/detikcom
Jakarta -

Sejumlah ahli mewanti-wanti ratusan pesawat yang kembali beroperasi usai dilarang terbang selama berbulan-bulan karena pandemi COVID-19. Hal itu menyusul jatuhnya pesawat Boeing milik Sriwijaya Air tak lama setelah lepas landas dari Soekarno-Hatta.

Pengamat penerbangan Alvin Lie menegaskan jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak di perairan Pulau seribu tak ada kaitannya dengan usia pesawat.

"Walaupun pesawat usianya sudah 26 tahun, tapi asal perawatannya baik tidak ada masalah. Kemudian pesawat ini juga pernah dikandangkan oleh Sriwijaya antara 23 Maret sampai tanggal 23 Oktober, tahun lalu. Setelah itu sudah aktif lagi terbang," kata Alvin yang dikutip Sabtu, (9/1/2021) dalam wawancara dengan CNN Indonesia TV.

Tapi maskapai diminta berhati-hati saat menghidupkan kembali armada pesawatnya. Usai berbulan-bulan dikandangkan, tidak hanya pesawat tetapi juga sumber daya manusia (SDM).

Dicuplik Reuters, Minggu (10/1/2021) potensi bahaya yang muncul setelah armada pesawat lama tak dioperasikan di antaranya; pilot rustiness (menurunnya keterampilan sebab jarang terbang), kesalahan perawatan, dan bahkan serangga yang membuat sarang hingga bisa memblokir sensor-sensor utama pesawat.

Menurut data International Air Transport Association (IATA) menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pendaratan yang tak mulus di suatu bandara pada tahun ini. Hal ini dapat mengakibatkan pendaratan yang keras, landasan pacu melampaui batas (pesawat tergelincir keluar) atau bahkan tabrakan.

Selain itu, Badan Keamanan Penerbangan Uni Eropa (European Union Aviation Safety Agency/EASA) telah melaporkan "tren yang mengkhawatirkan" dalam jumlah laporan pembacaan kecepatan dan ketinggian yang tidak sesuai selama penerbangan pertama setelah pesawat meninggalkan penyimpanan. Dalam beberapa kasus pesawat batal terbang atau harus kembali ke pangkalan.

Beberapa kejadian menunjukkan bahwa data kecepatan dan ketinggian tidak sesuai. Ini disebabkan sensor yang kotor lantaran serangga atau kotoran lain yang menghambat pitot tube (tabung pitot).

Dalam laporan Reuters, sarang serangga yang tidak terdeteksi dalam tabung pitot pesawat --instrumen berlubang di bagian luar pesawat yang berguna untuk mengukur kecepatan udara-- bisa membahayakan pesawat. Bagi tawon, tabung pitot adalah rongga yang sempurna untuk membangun sarang.

Sementara menurut Bloomberg, pesawat yang diparkir tetap dirawat dengan memanaskan mesin secara berkala, serta menyalakan sistem perangkat elektronik untuk memastikan semuanya berjalan dengan lancar. Jika tidak, mesin dan sensor harus tetap tertutup untuk melindunginya dari debu dan pasir.

Maskapai mungkin memutuskan untuk menyimpan bahan bakar di tangki pesawat agar tetap terlumasi. Selain itu harus meletakkan cairan hidrolik pada roda pendaratan untuk mencegah karat, dan memutar roda pesawat setiap beberapa minggu dengan menariknya di sekitar landasan atau mendongkrak dan memutarnya.

Berdasarkan grafik kecepatan dan informasi lainnya, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 kehilangan ketinggian secara drastis.

"Pesawat kehilangan ketinggian secara drastis pada ketinggian 10 ribu kaki, sedangkan kecepatan vertikal atau kecepatan turunnya mendekati 30 ribu kaki per menit. Jadi kalau ada di ketinggian 10 ribu kaki, pesawat terhempas ke permukaan hanya butuh sepertiga menit atau 20 detik," imbuh Alvin.

Selanjutnya
Halaman
1 2