Cerita Owner Kutus Kutus Beli Kastil untuk Kantor di Belanda

Nurcholis Maarif - detikFinance
Selasa, 12 Jan 2021 23:22 WIB
Minyak Kutus-kutus
Foto: Nurcholis Ma'arif/detikcom
Jakarta -

Minyak Kutus-kutus yang disebut memiliki banyak khasiat untuk berbagai penyakit menjadi salah satu oleh-oleh yang sering dibeli dari Bali. Minyak Kutus-kutus kini telah memiliki kantor internasional dalam bentuk kastil abad 16 di Amsterdam, Belanda dan berencana membuka kantor lagi di San Francisco, Amerika Serikat.

Penemu ramuan Minyak Kutus-kutus Bali, Servasius Bambang Pranoto menyebut alasan membeli kastil karena ingin memberi dampak bahwa produk asli Indonesia tersebut masuk ke Belanda secara terhormat, bukan produk yang ecek-ecek, dan produk yang elegan.

"Kita sedang cari position supaya datang sebagai raja, kita biasanya datang sebagai budak, makanya beli kastil. Jadi beli kastil sangat luas itu, kastil abad ke-16. Itu salah satu strategi kita," ujar Bambang saat ditemui di kantornya di Gianyar, Bali beberapa waktu lalu.

"Dan supaya publik Belanda tahu, mohon maaf katanya orang Indonesia yang datang ke Belanda tuh cuma koruptor. Makanya waktu saya mau beli (kastil iti) berhadapan dengan lawyer yang nanya segala macem, duitnya dari mana segala macam, yang secara halus nanya kamu koruptor loh. Kita open-open aja," imbuhnya.

Jika kantor di Amsterdam sudah berjalan, Bambang mengatakan berencana membuka kantor di San Fransisco, Amerika Serikat. Minyak Kutus-kutus juga masih melakukan eksperimen untuk menghilangkan bau dari Minyak Kutus-kutus dengan tujuan pasar Eropa.

Bambang menjelaskan Minyak Kutus-kutus sebenarnya sudah dipakai dari beberapa abad yang lalu oleh orang Indonesia, bahkan ia pernah menemukan cara pembuatannya di relief Candi Borobudur. Ia mengaku hanya menemukannya kembali dengan pengepakan yang lebih modern.

Waktu ia menderita sakit lumpuh dan punya ide membuat minyak yang kemudian menyembuhkan sakit-sakitnya. Ia yang berjiwa seniman itu mengaku terus melakukan eksperimen agar produk minyaknya punya kualitas yang bagus sebelum dijual. Pengalamannya bekerja di Philip Internasional membuatnya punya dasar dalam pengelolaan bisnis.

"Itu yang membuat dasar kenapa Minyak Kutus-kutus cepat sekali, saya sudah berpengalaman, tapi kembali lagi bahwa apapun kemampuan kita, itu jadi tidak berarti kalau kita tidak punya produk yang excellent," ujarnya.

Minyak Kutus-kutusMinyak Kutus-kutus Foto: Nurcholis Ma'arif/detikcom

Bambang juga mengatakan Minyak Kutus-kutus diolah tidak menggunakan teknologi tinggi, tetapi lebih banyak menggunakan tangan manusia. Bahkan ia menyebut pekerja di Minyak Kutus-kutus memiliki gaji dua kali lipat di atas UMR setempat.

"(Terjual) 24 ribu botol per hari dengan rate harga Rp 230 ribu. Jadi uang yang dimainkan per hari kurang lebih, silakan hitung sendiri mas. Dan dengan cara sederhana, tidak memerlukan teknologi yang tinggi, yah kaya orang tua dulu bikin bumbu," ujarnya.

"Secara cost murah lah, yang mahal itu gimmicknya, kaya botol, kotak kardus, yah packaging-nya lah. Karena saya memang ingin ada gaya seni yang rada gimana gitu. Dari bahan baku kita coba the highest possible," imbuhnya.

Menurut Bambang, harga Minyak Kutus-kutus Bali tersebut tidak pernah naik dan turun selama 7 tahun berdiri sejak 2013 dan berlaku di seluruh daerah Indonesia. Ia mengatakan Minyak Kutus-kutus Bali sudah punya 50 ribu reseller dan hampir di seluruh kecamatan di Indonesia sudah ada reseller produk tersebut.

"Dan 90% pembeli pertama akan jadi pembeli tetap. Itu disinggung lho di awal konferensi (gerakan nasional) Bangga Buatan Indonesia, yang ngoceh tuh pak Luhut. Pak Luhut katanya dari cucunya, menantunya, anaknya dan saya, keluarga dia sudah dikooptasi sama kutus-kutus," ujarnya.

Sebagai informasi, Minyak Kutus-kutus Bali merupakan satu dari tiga UMKM produk artisan yang rencananya akan dipajang dalam peluncuran gerakan nasional Bangga Buatan Indonesia oleh Kementerian Perhubungan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali kemarin. Namun tidak jadi dihadirkan karena adanya pembatasan peserta.

Bambang dihadirkan dalam media briefing Bangga Lokal BCA usai acara peluncuran Bangga Buatan Indonesia 2021 secara virtual. Adapun Bangga Lokal merupakan program milik BCA yang satu visi dan untuk mendukung gerakan Bangga Buatan Indonesia. BCA membidik mendampingi 500 UMKM Bali dalam program Bangga Lokal selama bulan Januari 2021.

"Peran UMKM besar bagi perekonomian nasional, maka dengan program BBI ini kami berkomitmen memberi pendampingan (salah satunya) melalui webinar inspiratif melalui jaringan cabang (BCA) di Bali. Dan mungkin akan tambah di cabang lain untuk mendukung gernas Bangga Buatan di Indonesia," ujar Presiden Direktur BCA, Jahja Setiaatmadja dalam pembukaan acara kemarin.

"Melalui Bangga Lokal yang berjalan sejak tahun lalu, sudah 185 yg kita adopsi. Jumlah ini diharapkan terus berkembang. Kami memfasilitasi UMKM tadi dengan program kredit UMKM yang membantu permodalan. Selain program permodalan, kami juga meletakkan infrastruktur pembayaran untuk mereka berwirausaha," imbuhnya.

(akn/hns)