Utang Luar Negeri RI Rp 5.832 Triliun di Akhir November

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 15 Jan 2021 11:34 WIB
Samadikun Hartono mengembalikan uang tunai Rp 87 miliar. Total yang telah dikembalikan Rp 169 miliar, sesuai perintah Mahkamah Agung (MA).
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mencatat posisi utang luar negeri (ULN) periode akhir November tercatat US$ 416,6 miliar atau setara dengan Rp 5.832,4 triliun dengan asumsi kurs Rp 14.000. Angka ini tumbuh 3,9% dibandingkan periode bulan sebelumnya yang hanya 3,3%.

Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan ULN Indonesia ini terdiri dari ULN publik (Pemerintah dan Bank Sentral sebesar US$ 206,5 miliar atau sebesar Rp 2.891 triliun dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$ 210,1 miliar atau sebesar Rp 2.941 triliun.

"Ini disebabkan oleh peningkatan penarikan neto ULN pemerintah. Selain itu penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga berkontribusi pada peningkatan nilai ULN berdenominasi rupiah," ujar Erwin dalam keterangan resmi BI, Jumat (15/1/2021).

Untuk ULN pemerintah pada akhir November 2020 sebesar US$ 203,7 miliar atau tumbuh 2,5%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober 2020 sebesar 0,3%.

Erwin mengatakan perkembangan ini dipengaruhi oleh kepercayaan investor yang terjaga sehingga mendorong aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN), serta penarikan sebagian komitmen pinjaman luar negeri untuk mendukung penanganan pandemi COVID-19 dan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

BI ULN Pemerintah tetap dikelola secara hati-hati, kredibel, dan akuntabel untuk mendukung belanja prioritas, yang diantaranya mencakup sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial (23,8% dari total ULN Pemerintah), sektor konstruksi (16,6%), sektor jasa pendidikan (16,6%), dan sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (11,8%), serta sektor jasa keuangan dan asuransi (11,2%).

Kemudian untuk ULN swasta tercatat 5,2% lebih lambat dibandingkan periode bulan sebellumnya 6,4%. Perkembangan ini disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN perusahaan bukan lembaga keuangan (PBLK) dari 8,3% (yoy) pada Oktober 2020 menjadi sebesar 7,2% (yoy).

Selain itu, ULN lembaga keuangan (LK) mencatat kontraksi 1,4% (yoy). Berdasarkan sektornya, ULN terbesar dengan pangsa mencapai 77% dari total ULN swasta bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan dan penggalian.

Erwin menyebutkan rasio ULN Indoensia terhadap PDB pada akhir November 2020 sebesar 39,1%. Relatif stabil dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya 38,8%.

Struktur ULN Indonesia 89,3% merupakan utang jangka panjang. "BI dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaanya. Peran ULN juga terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian nasional," jelasnya.

(kil/zlf)