Kronologi Beras Murah Vietnam Bisa Rembes ke Pasar Indonesia

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 19 Jan 2021 12:23 WIB
Impor Beras
Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Kabar rembesnya beras impor dari Vietnam jenis yasmin (jasmine rice) ke Pasar Induk Beras Cipinang kembali dibahas oleh Komisi IV DPR RI dalam rapat dengar pendapat (RDP) hari ini.

Kali ini, Komisi IV DPR RI memanggil Badan Karantina Pertanian (Barantan) Kementerian Pertanian (Kementan) yang bertugas memeriksa masuknya produk pertanian impor ke wilayah Indonesia.

Dalam RDP dengan Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi kemarin, Senin (18/1), Komisi IV telah meminta penjelasan terkait kabar rembesnya beras impor tersebut, yang kemudian dibenarkan Kementan. Namun, Komisi IV mengatakan perlunya penjelasan lebih dari Barantan terkait proses masuknya beras tersebut ke wilayah Indonesia.

Dalam rapat hari ini, Kepala Barantan Kementan Ali Jamil mengatakan, pihaknya memang menerima data impor beras dari Vietnam dan Thailand yang surat izin impornya (SPI) terbit pada 15 Oktober 2020 lalu.Namun, dalam data Kementan, impor itu diajukan olehPTPerusahaan Perdagangan Indonesia(Persero) atau PT PPI.

"Kami sampaikan kronologis masuknya beras dari Vietnam. Jadi yang pertama itu kami bisa melihat di sini, SPI-nya kepada BUMN itu diterbitkan 15 Oktober 2020. Itu PPI dari Thailand dan Vietnam," ungkap Ali dalam RDP dengan Komisi IV, Selasa (19/1/2021).

Selain itu, data yang masuk ke Barantan jenis beras yang diimpor berbeda dengan yang rembes, yakni beras khusus jenis japonica (japonica rice) sebanyak 800 ton.

"Kemarin kita juga sudah periksa barangnya dan dokumen kesehatannya, dilengkapi sertifikat, prior notice, dan seluruhnya. Di PC-nya (Phytosanitary Certificate) itu adalah Vietnam Japonica. Dan kami punya fotonya semua adalah japonica. Jadi sementara itu yang kami sampaikan," sambung Ali.

Ketua Komisi IV Sudin dari fraksi PDIP langsung merespons hal tersebut. Ia mengatakan, beras khusus yang diimpor seharusnya dijual dengan harga di atas beras lokal. Sementara itu, jasmine rice yang rembes ke Pasar Cipinang dijual seharga Rp 9.000 per kilogram (Kg) atau di bawah harga beras lokal.

"Jadi yang dilaporkan 300 ton, yang masih di gudang 500 ton? Informasinya Bareskrim Polri sudah memeriksa ke sana. Cuma hasilnya belum ada. Dan kalau impornya beras khusus itu harga jualnya Rp 12.500-13.000/Kg minimal. Ini kan hanya Rp 9.000/Kg. Bahkan beras organik di tempat saya saja (Lampung) sudah Rp 9.000/Kg," kata Sudin.

Di sisi lain, keterangan pihak yang mengimpor pun berbeda dari apa yang disampaikan Barantan dengan laporan yang diterima Komisi IV DPR RI. Wakil Ketua Komisi IV Dedi Mulyadi dari fraksi Golkar kemarin membeberkan, impornya tersebut dilakukan oleh PT Sarinah.

"Saya barusan ditelepon,di pasar hari ini ada beras impor dari Vietnam dibanderol Rp 9.000/Kg, yang impornya Sarinah. Apakah Kementan mengetahui? Apa Balai Karantina mengetahui?" kata Dedi, Senin, (18/1) kemarin.

Oleh karena itu, menurut Sudin diperlukannya penjelasan dari Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri (Daglu) Kementerian Perdagangan terkait kasus rembesnya beras impor Vietnam ini.

"Seharusnya kami juga mengundang Dirjen Daglu. Cuma sesuatu hal maka tidak jadi. Nanti kita pendalaman," tutup Sudin.

(eds/eds)