ADVERTISEMENT

Kampanye Anti-Sawit RI di Swiss Bisa Ganggu Bisnis Kedua Negara

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 19 Jan 2021 18:09 WIB
Minyak Sawit produksi Indonesia selama ini selalu dijegal oleh berbagai pihak yang salah satunya Eropa. Mulai dari isu kesehatan sampai isu lingkungan.
Foto: dok. GAPKI

Muliaman menambahkan bahwa akan tercipta peluang ekspor yang lebih besar termasuk ekspor sawit ke negara-negara EFTA jika perjanjian ini bisa diratifikasi dan diimplementasikan.

"Vietnam dan Malaysia saat ini juga sedang melakukan negosiasi perjanjian serupa dengan negara.negara EFTA. Kita harus bekerja cepat," ujar Muliaman.

Negara yang tergabung dalam EFTA antara lain Swiss, Norwegia, Islandia dan Liechtenstein adalah negara-negara non EU (Uni Eropa) dengan rata-rata pendapatan per capita yang tinggi yakni lebih dari US$ 80 ribu pertahun dan nilai GDP gabungan sekitar US$ 1 miliar. Lebih dari 70% ekspor negara-negara EFTA ini menuju ke negara.negara tetangga di Uni Eropa dan Uni Eropa menjadi mitra dagang utama negara-negara EFTA.

Menurut konstitusi Swiss, meskipun perjanjian ini telah dibahas dan disetujui di Parlemen, diberikan kepada masyarakat untuk menyampaikan aspirasinya.

Seperti diberitakan bahwa sebuah kelompok LSM dan petani Swiss mengajukan referendum untuk menolak IE CEPA karena di dalam perjanjian ada pengaturan mengenai penurunan tarif bagi minyak sawit Indonesia. Inisiasi referendum ini dapat dilangsungkan setelah kelompok tersebut berhasil mengumpulkan lebih 50 ribu tanda tangan. Referendum direncanakan tanggal 7 Maret 2021.

Perjanjian ini juga mengatur persyaratan sustainability serta syarat lain bagi minyak sawit Indonesia. Namun kelompok penentang ini tidak percaya kalau aturan itu dapat berjalan dengan baik dan menolak minyak sawit Indonesia masuk pasar Swiss.

Di samping itu mereka dengan jujur menyatakan bahwa minyak nabati produksi Swiss seperti minyak bunga matahari, canola, buah rapa dan lainnya tidak dapat bersaing dari segi harga dan produktifitas dengan minyak sawit.

Waktu pelaksanaan referendum tinggal 2 bulan, pihak penentang semakin gencar melakukan kampanye untuk mengajak rakyat Swiss menolak IE CEPA. Namun pihak Pemerintah Swiss dan dunia usaha Swiss juga tidak kalah gencar melakukan kampanye terbuka agar publik Swiss mendukung IE CEPA.

Presiden Swiss yang juga menjabat sebagai Menteri Ekonomi menyatakan bahwa bila Swiss tidak menjadi bagian dari IE CEPA maka perekonomian Swiss akan mengalami kerugian besar terutama dalam perdagangan dan investasi. Presiden Swiss juga mengatakan bahwa semua kegiatan ekonomi Swiss terkait dengan perdagangan dan perjanjian IE CEPA adalah salah satu akses penting untuk meningkatkan perdagangan dan investasi.


(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT