Pemerintahan Trump Ungkap RI-Israel Pernah Hampir 'Jadian'

Hendra Kusuma - detikFinance
Rabu, 20 Jan 2021 16:21 WIB
President Donald Trump walks on the South Lawn of the White House in Washington, Sunday, Nov. 29, 2020, after stepping off Marine One. Trump is returning from Camp David. (AP Photo/Patrick Semansky)
Foto: AP Photo/Patrick Semansky
Jakarta -

Pemerintahan Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump menyebut Indonesia dan beberapa negara lainnya berpotensi untuk menormalkan kembali hubungannya dengan Israel. Sayangnya, hal tersebut tidak terwujud lantaran Trump tidak lagi terpilih sebagai orang nomor satu di negeri Paman Sam.

Hal itu dikutip dari Times of Israel dalam laporan eksklusifnya yang mengutip dua pejabat Amerika Serikat. Beberapa negara lainnya adalah Mauritania yang berasal dari Benua Afrika.

Dua pejabat tersebut menyebut, Mauritania adalah negara yang paling berpotensi menormalkan hubungan kembali dengan Israel. Jika saja Trump masih memiliki waktu beberapa bulan ke depan, maka kedua negara tersebut akan terlibat dalam perjanjian Abraham Accords.

Perjanjian Abraham Accord menjadi simbol dibukanya hubungan Israel dengan sejumlah negara muslim seperti Uni Emirat Arab, Sudan, Bahrain, dan Maroko.

"Kandidat paling mungkin berikutnya untuk bergabung dengan apa yang disebut Abraham Accords adalah Indonesia," kata para pejabat AS yang menyebut kesepakatan tersebut bisa terealisasi jika Trump memiliki satu atau dua bulan lagi di Gedung Putih.

Dengan jumlah penduduk yang lebih dari 270 juta, Indonesia adalah negara muslim terbesar di dunia. Hal itu menjadi 'kepentingan simbol ekstra' bagi pemerintahan Donald Trump, yang menyatakan konflik Israel-Palestina tidak perlu menjadi penghalang bagi perdamaian antara negara Yahudi dan dunia muslim dan Arab.

Seorang pejabat senior di pemerintahan Trump mengatakan kepada Bloomberg, Indonesia akan menerima bantuan pembangunan senilai US$ 2 miliar dari AS jika berkongsi dengan Israel.

"Kami sedang membicarakannya dengan mereka. Jika mereka siap, mereka siap, dan jika mereka siap maka kami akan dengan senang hati bahkan mendukung secara finansial lebih dari apa yang kami lakukan," kata Adam Boehler, CEO US Internasional Development Finance Corp.

Selanjutnya
Halaman
1 2