Kasus COVID-19 Naik, BI Optimis Ekonomi Tumbuh 5,8%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 21 Jan 2021 17:37 WIB
Pemulihan ekonomi nasional di tahun 2021 masih memiliki tantangan besar. COVID-19 masih menjadi faktor ketidakpastian alias hantu pemulihan ekonomi.
Ilustrasi/Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2021 diproyeksi 4,8-5,8%. Hal ini diungkapkan oleh Bank Indonesia (BI).

Gubernur BI Perry Wariyo mengungkapkan angka ini memang lebih rendah dibandingkan dengan prakiraan semula. Perry mengungkapkan kondisi ini memang berbeda dengan krisis yang pernah dihadapi sebelumnya, seperti krisis global sampai krisis Asia.

"Ini karena COVID-19. BI terus mendukung penuh ajakan pemerintah dan kita semua untuk tetap disiplin memenuhi protokol COVID-19 dengan 3M jangan pernah dilanggar," kata dia dalam konferensi pers, Kamis (21/1/2021).

Dia mengungkapkan BI juga mencermati perkembangan pada Desember 2020 sampai Januari 2021 adanya peningkatan kasus yang dipengaruhi oleh mobilitas masyarakat karena episentrum COVID-19.

BI menilai saat ini pemerintah juga berupaya untuk menerapkan disiplin protokol kesehatan dan program vaksinasi. Dia mengajak masyarakat untuk turut serta mensukseskan program vaksinasi ini.

Menurut dia untuk Desember-Januari ada pengaruh kenaikan COVID-19 terhadap aktivitas perekonomian. Walaupun ekspor impor meningkat cukup tinggi, ekspor ke China, AS, dan ASEAN terjadi kenaikan. Angka ini merupakan yang tertinggi sejak 2013 yakni mencapai US$ 15,5 miliar atau 14,6% didukung oleh program pemulihan ekonomi nasional (PEN).

Kemudian ekspansi fiskal yang dilakukan Menteri Keuangan tak hanya untuk bantuan sosial tetapi juga untuk belanja modal yang digunakan oleh Kementerian PUPR.

"Yang tadi berpengaruh adalah mobilitas adalah konsumsi, konsumsi akan terus naik tapi tingkatnya sedikit lebih rendah. Kemudian ekspektasi keyakinan penjualan dan konsumen masih naik meski lebih rendah," ujar dia.

BI memandang proyeksi perekonomian nasional 2021 berada di kisaran 4,8-5,8%. "Itu masih kami pegang meski dari waktu ke waktu akan kami assessment," jelasnya.

(kil/ara)