Awas Kejahatan Skimming Melonjak di Tengah Pandemi, Ini Buktinya!

Sudrajat - detikFinance
Jumat, 22 Jan 2021 10:25 WIB
Skimming
Foto: Tim Infografis: Zaki Alfarabi
Jakarta -

Para pelaku tindak pidana tak pernah kehabisan akal dalam melakukan aksi jahatnya. Di tengah kondisi pandemi COVID-19, bagi mereka bisa jadi peluang untuk beraksi. Salah satunya, menurut Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) Dian Ediana Rae, dengan melakukan skimming.

Secara awam, skimming diartikan sebagai pencurian informasi kartu baik debit maupun kredit dengan cara menyalin informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu. Atau bisa juga dengan melakukan pencurian dengan memanipulasi surat elektronik (e-mail).

"Para kriminal ini tahu, di tengah situasi pandemi COVID-19 yang banyak dibutuhkan adalah obat-obatan, vitamin, alat kesehatan, dan sejenisnya. Mereka pun meretas akun imel perjanjian jual beli pihak tertentu agar transfer uang pembayaran jatuh ke rekening mereka, bukan milik penjual," tutur Dian dalam program Blak-blakan yang tayang di detikcom, Jumat (22/1/2021).

Kasus kejahatan skimming tersebut, dia melanjutkan, banyak terjadi sejumlah negara. Untuk kasus ini, PPATK biasa bekerja sama dengan Bareskrim Polri untuk membongkarnya.

Pada pertengahan Desember 2020, misalnya, Bareskrim Polri menangkap dua tersangka kasus penipuan internasional dengan modus business e-mail compromise (BEC), berinisial UDEZE alias Emeka dan Hafiz. Mereka berperan membuat dokumen fiktif dan berpura-pura menjadi direktur sebuah perusahaan fiktif.

Kedua tersangka menjalankan aksi dengan cara mengirim e-mail palsu yang memberi informasi perubahan nomor rekening untuk pembayaran alat rapid test yang telah dipesan oleh korban, warga Belanda.

Total ada lima kasus penipuan dengan modus BEC tersebut dengan kerugian para korban sejumlah Rp 276 miliar. Dari kerugian sebanyak itu, Bareskrim berhasil memulihkan kerugian korban atau asset recovery korban Rp 141,6 miliar.

(jat/ang)