Job Fotografer Gowes Makin Subur saat Pandemi

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 24 Jan 2021 10:30 WIB
Fotografer sepeda
Foto: Fotografer Sepeda/yurigophotography
Jakarta -

Pandemi COVID-19 berhasil membuat olahraga sepeda menjadi meledak. Hampir semua golongan rela mengayuh untuk menghilangkan rasa bosan karena terlalu lama berdiam diri di rumah. Meledaknya fenomena gowes pun menghadirkan suatu peluang usaha yang sangat potensial.

Peluang usaha tersebut sudah dimanfaatkan para fotografer tanah air. Menjamurnya komunitas sepeda dan meledaknya aktivitas bersepeda membuat profesi fotografer sepeda semakin banyak dan menuai pundi-pundi.

Bayu, saat ini bisa dibilang dia ketiban rezeki karena sering memotret masyarakat yang gemar gowes selama pandemi Corona, baik hari biasa maupun hari libur.

Bayu mengaku mulai memotret para goweser ini sejak 2017. Pada saat itu, dirinya juga terbilang sebagai fotografer sport khususnya bidang lari. Berkat pengalamannya, dia pun langsung memanfaatkan booming sepeda untuk mencari pundi-pundi keuntungan.

Dia pun mengaku, sengaja memotret para pesepeda untuk menjual hasil jepretannya.

"Saya pikir foto ini bisa lah dijual. Karena sepeda mereka sudah bagus, outfit sudah bagus pasti mau juga diabadikan yang bagus, bukan yang sekedarnya," kata Bayu kepada detikcom, Minggu (24/1/2021).

Dia meyakini para goweser pun rela membeli fotonya karena hal tersebut sama seperti sebelum pandemi terjadi di mana booming para komunitas lari. Pada saat itu, dia pun berhasil mendapatkan pundi-pundi dari berbagai event lari di tanah air.

Dia menceritakan, butuh beberapa waktu untuk mengkomersilkan hasil jepretannya. Awalnya, dia pun hanya rutin setiap Sabtu dan Minggu memotret para pesepeda di kawasan Bintaro. Setelah itu, hasil fotonya pun langsung diunggah di akun Instagramnya @guejualfoto.

Berlatar belakang sebagai orang yang pernah ikut komunitas lari dan sepeda. Bayu mengaku meminta kepada rekan-rekannya untuk memberitahukan bahwa hasil jepretannya sudah diunggah dan bisa dibeli jika memang ingin memilikinya.

"Itu bagusnya dari mulut ke mulut, karena kadang ada teman-temannya, nah ini ada si ini di mention. memang kalau gambar kalau di facebook kurang, kalau di Instagram kan memang gambar," kata dia.

Booming sepeda ini pun dimanfaatkan oleh Yulius Rianto, pemilik akun Instagram @yurigophotography ini mulai menyelam sebagai fotografer pesepeda sejak Juli 2020. Dia memotret para sepeda yang berada di kawasan Mozia loop Tangerang.

Yulius mengaku ingin memanfaatkan kawasan Mozia sebagai ajang memotretnya karena melihat Bayu pemilik akun @guejualfoto yang sudah terlebih dahulu berhasil menjual foto-foto para goweser di kawasan Bintaro. Bahkan, awal mula memasarkan hasil jepretannya, Yulius menitipkan pada akun tersebut.

"Dari Mozia di Juli, lalu saya nebeng di akunnya si @guejualfoto, numpang jualan karena mereka yang lebih dikenal duluan untuk menjual foto sepeda," kata Yulius.

Awalnya, Yulius mengaku banyak memotret semua orang yang pada saat itu juga sedang gowes di kawasan Mozia. Menurut dia, cara kerja fotografer sepeda sama seperti tukang jepret foto di acara wisudaan.

Butuh waktu hingga Agustus, dikatakan Yulius akhirnya hasil karyanya pun sudah mulai dikenal banyak orang, khususnya yang gowes di kawasan Mozia loop. Dengan begitu, dia pun mulai mengunggah hasil jepretannya di akun Instagramnya.

Mengenai harga untuk satu foto, mereka berdua mengaku senilai Rp 100 ribu. Mereka mengaku dalam satu hari, hasil jepretannya bisa laku kepada 10 orang.

Menurut Yulius, melakoni juru foto khusus sepeda di masa pandemi merupakan peluang usaha yang sangat besar. Selain dari para individu yang membelinya, ada potensi juga disewa oleh para komunitas, salah satunya roadbike.

Menurut dia, biaya jasa foto untuk komunitas pun jauh lebih tinggi dibandingkan perorangannya. Sayangnya dia tidak ingin menyebutkan tarif pastinya berapa, namun bisa mencapai jutaan rupiah.

"Untuk sport ini potensi besar. Karena biasanya event itu cuma Sabtu dan Minggu, kalau ini hari biasanya juga bisa," katanya.

"Jadi seperti gajian aja sehari gajian, kalau dapat lebih puji tuhan alhamdulillah, kita kerja 2 jam Rp 500 ribu ya di mana lagi, cuma bangun pagi saja," tambahnya.

(hek/zlf)