Liputan Khusus

Cerita Fotografer Cari Makan dari Booming Gowes

Hendra Kusuma - detikFinance
Minggu, 24 Jan 2021 17:00 WIB
Penasaran kenapa foto para pesepeda keren-keren? Ini dia sosok-sosok fotografer yang rela rebahan di jalan hingga ngumpet di semak-semak dan pembatas jalan.
Foto: Rifkianto Nugroho/detikHealth
Jakarta -

Tidak ada yang menyangka bahwa Yulius Rianto berhasil memenuhi kebutuhan hidupnya berkat menjalani profesi sebagai fotografer sepeda atau gowes. Di masa pandemi, dia memanfaatkan teknik foto yang dikuasainya untuk mendapatkan pundi-pundi uang.

Dia mengaku hingga saat ini masih tercatat sebagai seorang pegawai di salah satu perusahaan penyuplai tas tour dan travel. Selama pandemi, perusahaannya tidak dapat job lantaran kebijakan pemerintah yang masih membatasi penerbangan ke luar negeri.

Meski tidak terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan tetap digaji penuh, namun dirinya tetap mencari penghasilan tambahan, salah satunya menjadi fotografer sepeda.

Dia menceritakan, menjalankan profesi fotografer bukan hal baru bagi dirinya. Di kala senggang dari pekerjaan utama, Yulius mengaku sering mendapat job untuk mengabadikan momen-momen lomba mulai dari lari, renang, hingga basket. Tentunya hasil jepretannya ini tetap dijual kepada para pesertanya.

Dengan bekal pengalamannya, dia pun memberanikan diri untuk memotret para pegowes di Mozia Loop, kawasan BSD, Tangerang. Yulius memulai usaha sampingannya ini sejak Juli 2020.

"Karena tidak ada event sejak Februari, kita putar otak. Bagaimana caranya tetap dapat uang, karena tidak ada event kan habis tuh tidak ada penghasilan," kata dia kepada detikcom, Minggu (24/1/2021).

Pemilik akun @yurigophotography ini butuh sekitar 4 bulan untuk benar-benar bisa menjual hasil jepretannya. Pada Juli 2020, sehabis motret biasanya Yulius menitipkan hasil karyanya ke akun Instagram @guejualfoto. Akun tersebut memang lebih dulu dikenal para pecinta gowes.

Tepat di November 2020, Yulius berhasil menjual hasil jepretannya secara pribadi kepada para penggowes di Mozia loop BSD.

"Kalau waktu saya di Mozia memang awalnya untuk saya cari duit, karena saya tahu background saya pernah motret renang, motret basket, jualan juga. Jadi saya tahu marketnya ada, tinggal bagaimana caranya kita jualan," ujarnya.

"Jadi saya jujur sudah berpikiran seperti itu, karena saya kerucutin mau sport, karena orang umum saja itu pasti mau difoto keren dan rela bayar. Karena tidak semua fotografer bisa foto sport karena equipmentnya beda," sambungnya.

Sampai saat ini, Yulius menjual hasil karyanya Rp 100 ribu per foto. Semua hasil jepretannya selalu di unggah di akun Instagram pribadinya @yurigophotography. Jadi, buat masyarakat yang menginginkan hasil jepretannya, tinggal menghubungi via direct message (DM) di aplikasi tersebut.

"Saya membagikan link ini lewat Instagram. Akhirnya banyak yang DM, di Instagram saya sendiri. Lama-lama tahu, yang main di Mozia itu pelari jadi beberapa sudah kenal, pindah ke sepeda, saya dari mulut ke mulut, akhirnya laku," kata Yulius.

Dia menyebut, setiap harinya bisa menjual 5 sampai 10 foto kepada para penggowes di kawasan Mozia loop. Hal itu pun dirasa cukup sebagai penghasilan tambahan. Apalagi profesi sebagai fotografer sepeda ini tidak mengganggu jam kerjanya sebagai sales tas tour dan travel. Sebab, dirinya selalu beroperasi mulai dari jam 6 pagi hingga jam 8 pagi.

Tidak sampai di situ, penghasilannya sebagai fotografer sepeda pun bisa bertambah jika ada komunitas sepeda yang menyewa secara khusus. Biaya jasa sewa ini pun terbilang cukup tinggi, menurut dia bisa sampai jutaan untuk waktu gowes sekitar 6-8 jam.

Selain di Mozia loop, Yulius juga sesekali memotret para pesepeda di kawasan Bintaro Loop, Dalam Kota (Dalkot) loop, Alam Sutera Loop, dan yang terbaru PIK loop. Khusus di PIK dia mendapat VIP Pass dari pihak marketing.

Pemerhati Marketing, Yuswohady menilai booming fotografer sepeda merupakan hal yang wajar. Sebab, pasar untuk menjual foto-foto orang bersepeda di masa pandemi itu merupakan peluang usaha yang besar.

"Karena semua orang itu ingin tampil, narsis dan ini selama pandemi apa-apa yang berbau gowes itu keren," kata Yuswohady.

Rasa ingin tampil atau narsis di diri masing-masing masyarakat saat ini sangat tinggi. Apalagi ada platform seperti Instagram yang bisa menjadi ajang narsis. Menurut dia, mengunggah foto bagus saat bersepeda di masa pandemi merupakan hal yang sangat mahal.

"Dengan adanya Instagram, itu membentuk tidak hanya sebuah apps yang menampilkan foto orang, tapi itu membentuk perilaku orang itu narsis, apalagi sekarang orang di rumah, biasanya narsis itu menunjukkan di mal, di jalan, dengan tidak bisa keluar maka media Instagram itu menjadi sangat powerfull. Makanya intinya meski tetap di rumah tapi kita masih bisa tampil seperti dulu, itu kenapa foto dibikin sebagus mungkin, dan kemudian harga tidak menjadi masalah ketika mendapatkan hasil yang bagus," ungkap dia.



Simak Video "Kampanyekan Donor Darah & Masker, Kakek Ini Gowes Sepeda Bandung-Solo"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/dna)