Merosot di 2020, Penjualan Barang Mewah 2021 Berharap Pada China

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 26 Jan 2021 09:43 WIB
Koleksi Jam Tangan Jose Maurinho
Ilustrasi/Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Merek jam tangan mewah Hublot dan Zenith yang juga milik Louis Vuitton S.A atau LVMH, optimistis penjualan perusahaan akan pulih tahun ini. Pasalnya, sejak awal dan penutupan 2020 menjadi tahun yang sulit bagi bisnis.

CEO Hublot Ricardo Guadalupe mengatakan perusahaannya berharap penjualan 2021 bisa tumbuh 15-20%. Tahun lalu, penjualan anak usaha LVMH itu merosot karena toko-tokonya dipaksa tutup untuk menahan penularan COVID-19.

"Untuk Hublot, kami mengharapkan pertumbuhan penjualan 15-20% tahun ini. Di China, kami masih memiliki banyak potensi, kami mengharapkan pertumbuhan yang sangat kuat 30-50% di sana," katanya, dikutip dari Reuters,Selasa (26/1/2021).

Guadalupe mengatakan pertumbuhan penjualan di kuartal terakhir 2020 lebih baik daripada di kuartal III untuk bisnis jam tangan dan perhiasan LVMH secara keseluruhan serta untuk Hublot. Untuk Hublot sendiri pertumbuhannya didorong oleh penjualan di China.

Sementara, CEO Zenith Julien Tornare mengatakan setelah kemerosotan tahun lalu akibat pandemi, Tornare berharap penjualan di China, Jepang dan Amerika Serikat harus meningkat tahun ini.

Dia tidak terlalu berharap untuk penjualan di Hong Kong. Meski kota itu menjadi pasar nomor satu bagi Zenith, hambatan pandemi masih menyelimuti wilayah itu.

Demi meningkatkan penjualan dan menghindari penumpukan stok, kedua merek jam tangan mewah itu akan merampingkan distribusi untuk tahun-tahun mendatang. Namun, mereka juga akan menambah toko baru di China tahun ini.

Penjualan online jam tangan Hublot, yang harganya rata-rata 18.000 euro peminatnya masih kecil, namun diperkirakan penjualannya akan naik 2-3%. Sementara Zenith, yang jam tangannya memiliki harga rata-rata 10.000 franc Swiss, menjual sekitar 5-6% jam tangannya secara online tahun lalu.

Minggu ini LVMH akan mengadakan pameran merek jam tangan mewahnya. Namun pameran fisik dibatalkan, jadi perusahaan hanya bisa berkesempatan memamerkan mereknya secara virtual.

(eds/eds)