Ridwan Kamil Beberkan Ada Investor Cabut dari Jabar, Eh Balik Lagi

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 26 Jan 2021 21:15 WIB
Curhat soal Corona, Ridwan Kamil ngaku pernah dibawa mimpi
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil/Foto: Yudha Maulana
Jakarta -

Ridwan Kamil menilai Provinsi Jawa Barat (Jabar) yang dipimpinnya menjadi favorit investor. Hal itu terbukti dari realisasi investasinya menjadi yang tertinggi se-Indonesia di 2020 dengan total Rp 120,4 triliun.

Saking favoritnya Jabar sebagai tempat investasi, pria yang akrab disapa Kang Emil itu menyebut ada investor yang sudah pergi dari Jabar, namun balik lagi. Hal itu dikarenakan tingkat produktivitas masyarakat di sana dinilai paling tinggi se-Indonesia dan mereka tidak mengedepankan upah.

"Isu upah tidak selalu menjadi isu nomor satu dalam unit cost sebuah ekonomi, tetapi juga produktivitas. Ada yang pindah dari Jabar mereka balik lagi karena produktivitas hanya 60% dari apa yang kami kerjakan," kata Ridwan Kamil dalam webinar bertajuk 'Akselerasi Pemulihan Ekonomi', Selasa (26/1/2021).

Alasan lainnya karena infrastruktur Jabar dinilai lebih baik ketimbang provinsi lain, terlebih adanya Pelabuhan Patimban, kawasan industri Rebana yang akan memiliki 13 kota industri, dan proyek kereta api cepat yang ditargetkan rampung dalam dua tahun ke depan.

"Saya banyak dapat pertanyaan dari Duta Besar yang ingin kerja sama karena Patimban berada di wilayah Metropolitan Rebana, sebuah kawasan baru di mana akan ada 13 kota industri baru yang sedang kita konsepkan," terang mantan Wali Kota Bandung itu.

Untuk terus meningkatkan investasi Jabar, belanja pemerintah sedang dikebut lelang. Ridwan Kamil mengatakan kalau belanja pemerintah masih belum bergulir, tidak ada pergerakan ekonomi di sektor swasta sehingga butuh belanja pemerintah untuk mendorong aktivitas.

Ridwan Kamil menambahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi provinsi Jabar 2021 berada di angka 4% untuk angka optimis, sedangkan angka pesimisnya di kurang lebih 2%. Dia pun mengatakan kawasan Rebana dan Patimban nantinya bisa menjadi mesin pertumbuhan ekonomi dengan potensi tambahan 3-4% dari existing di tahun ini.

(aid/hns)