TDL Naik, Lebih dari Separo Usaha Tekstil Jateng Bangkrut
Rabu, 08 Feb 2006 14:59 WIB
Semarang - Selain mempengaruhi masyarakat umum, kenaikan TDL (Tarif Dasar Listrik) juga dipastikan berdampak pada kalangan industri. Di Jateng, separo lebih usaha tekstil diperkirakan akan jatuh bangkrut karena tak kuat lagi menanggung biaya produksi.Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Semarang Agung Wahono menyatakan, kenaikan TDL secara otomatis berpengaruh pada membengkaknya biaya produksi. Pengaruhnya akan kian besar pada industri yang berbasis listrik."TDL merupakan elemen kedua setelah cost produksi. Jadi kalau TDL jadi naik, maka sudah pasti dampaknya sangat terasa," kata Agung ketika ditemui di kantornya, Jl. Imam Bonjol Semarang, Rabu (8/2/2006).Agung mengungkapkan, kenaikan TDL bisa jadi akan membuat bangkrut lebih dari separo usaha tekstil di Jateng. Hal itu terjadi karena beberapa waktu sebelumnya, kalangan usaha sudah dihimpit persoalan kenaikan harga BBM, elpiji, dayamax plus, dan UMK.Jika jumlah total usaha tekstil di Jateng baik skala besar, menengah dan kecil, sekitar 1.500 unit. Maka, lebih dari 750 unit diantaranya diperkirakan akan bangkrut.Ketika ditanya soal PHK massal, Agung menyatakan, hal itu tidak menyelesaikan masalah. "Banyak usaha yang sudah sangat efektif. Mereka bekerja dengan presisi yang tinggi. Maka pilihannya cuma satu, yakni tutup," ancamnya.Efek domino dari penutupan usaha ini tentu saja adalah terlantarnya karyawan. Berdasarkan data API, paling tidak terdapat 50 ribu karyawan tekstil yang terancam putus kerja.Mengenai rencana pemerintah memberi insentif pasca kenaikan TDL, Agung menjelaskan, hal itu tak memberi pengaruh yang besar. Pasalnya, insentif itu biasanya hanya berupa kemudahan ijin, pengurangan biaya ekspor, dan hal-hal yang tidak berkaitan dengan biaya produksi."Paling-paling insentif itu hanya membantu 15 persen dari usaha kami. Sedangkan kenaikan TDL, berpengaruh lebih besar dari jumlah itu," demikian Agung Wahono.
(qom/)











































