Masih 'Berdarah-darah', Boeing Tunda Luncurkan 777-X

Vadhia Lidyana - detikFinance
Rabu, 27 Jan 2021 22:20 WIB
Boeing 777-9X
Foto: CNN
Jakarta -

Sepanjang 2020, Boeing membukukan kerugian hingga US$ 11,94 miliar atau setara Rp 168,86 triliun (kurs Rp 14.155). Angka itu memecahkan rekor dalam sejarah kerugian Boeing. Untuk menutupi kerugian itu, perusahaan menarik biaya sebesar US 6,5 miliar atau setara Rp 92 triliun yang sebelumnya disiapkan untuk peluncuran tipe 777-X jetliner.

Dengan terpaksa, perusahaan harus menunda lagi peluncuran 777-X, yang merupakan versi besarnya dari tipe III mini-jumbo. Sebelumnya, perusahaan sudah menunda 2 tahun peluncuran 777-X menjadi tahun 2022. Secara total, maka perusahaan sudah menunda hingga 3 kali untuk peluncuran 777-X yang target akhirnya kini di tahun 2023.

Secara keseluruhan, kinerja keuangan Boeing memang sangat buruk. Selain membukukan kerugian yang memecah rekor, pendapatan perusahaan juga anjlok hingga 15% atau menjadi US$ 15,3 miliar atau setara Rp 216 triliun pada kuartal IV-2020.

"2020 adalah tahun yang berisikan gangguan sosial dan global yang mendalam dan berdampak secara signifikan karena membatasi industri kami," kata Kepala Eksekutif Boeing Dave Calhoun, dilansir dari Reuters, Rabu (27/1/2021).

Dari sisi kinerja sahamnya pun tak jauh berbeda, yakni anjlok 4,5% dalam perdagangan pra-pasar ke level terendah lebih dari 2 bulan yakni pada level US$ 193.

Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah pandemi virus Corona (COVID-19) yang sangat menekan industri penerbangan. Pembatasan aktivitas penerbangan menyebabkan produksi pesawat juga terganggu.

Selain itu juga 2 kecelakaan tragis Boeing 737 MAX-8 di Indonesia pada 29 Oktober 2018, dan di Ethiopia pada 10 Maret 2019 lalu.

Saat ini, Boeing sudah melakukan perbaikan pada tipe 737 MAX. Otoritas penerbangan di sejumlah negara juga sudah mencabut larangan terbang pada 737 MAX antara lain Eropa, Amerika Serikat (AS), Brasil, dan Kanada.

Namun, China yang pertama kali mengeluarkan larangan terbang pada tipe pesawat itu setelah kecelakaan di Ethiopia belum memberikan keputusannya, dan belum tahu mengatakan kapan akan bertindak. Padahal, seperempat penjualan 737 MAX itu ada di China.

(vdl/hns)