Siap-siap! Harga Kedelai Bulan Ini Diprediksi Makin Mahal

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 01 Feb 2021 13:05 WIB
Para perajin tahu dan tempe yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Tahu dan Tempe Indonesia (Gakoptindo) mendapatkan jatah impor kedelai sebesar 125.000 ton di 2013. Jumlah ini jauh lebih besar dari perhitungan awal yang hanya diberikan 20.000 ton. (Foto: Rachman Haryanto/detikFoto)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyebut sampai saat ini stok kedelai cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Pihaknya jamin kedelai akan selalu tersedia untuk industri perajin tahu dan tempe berproduksi memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah kenaikan harga kedelai impor.

"Kenaikan harga kedelai di tingkat perajin tahu dan tempe tersebut merupakan dampak pergerakan harga kedelai dunia sejak pertengahan tahun lalu hingga sekarang," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Syailendra dalam keterangan tertulis yang dikutip detikcom, Senin (1/2/2021).

Syailendra mengutip sumber dari Chicago Board of Trade (CBOT), menyebut harga kedelai dunia pada Desember 2020 masih sebesar US$ 13,12 per bushels untuk penyediaan pada Januari 2021. Pada saat ini, harganya telah naik 4,42% menjadi US$ 13,7 per bushels untuk penyediaan kedelai pada Februari.

Meski begitu, harga kedelai dunia diharapkan dapat segera menurun pada periode selanjutnya. Menurut Syailendra, saat ini harga kedelai impor di tingkat perajin tahu dan tempe secara umum berada di kisaran Rp 9.100-9.200 per kg. Sedangkan harga kedelai impor pada bulan Februari diperkirakan menjadi sekitar Rp 9.500 per kg di tingkat perajin tahu dan tempe.

Selain itu, akan terjadi penyesuaian kembali harga tahu yang sebelumnya Rp 600 per potong menjadi sekitar Rp 650 per potong dan harga tempe yang sebelumnya Rp 15.000 per kg menjadi sekitar Rp16.000 per kg.

Syailendra menjelaskan terjadi kenaikan harga kedelai dunia yang mencapai 30%, mulai paruh kedua tahun lalu hingga akhir 2020. Hal itu berdampak pada penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar yang naik menjadi rata-rata 20%, mengingat kedelai memberikan kontribusi yang cukup besar sebagai bahan baku produksi tahu dan tempe.

"Penyesuaian harga tahu dan tempe di pasar merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Sebabnya, mayoritas kebutuhan kedelai Indonesia masih dipenuhi melalui impor dan dipengaruhi pergerakan harga kedelai dunia yang berdampak pada harga bahan baku kedelai untuk tahu dan tempe di Indonesia," ujar Syailendra.

Pihaknya akan memantau dan mengevaluasi pergerakan harga kedelai dunia baik ketika terjadi penurunan ataupun kenaikan harga. Hal itu dilakukan guna memastikan harga kedelai di tingkat pengrajin tahu dan tempe, serta harga tahu dan tempe di pasar masih wajar.

Syailendra juga mengimbau para importir yang memiliki stok kedelai untuk terus memasok kedelai secara berlanjut kepada pengrajin tahu dan tempe yang tergabung dalam anggota Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), baik di provinsi maupun kabupaten/kota seluruh Indonesia.

"Diharapkan produksi tahu dan tempe tetap terus berjalan dan masyarakat masih tetap mendapatkan tahu dan tempe dengan harga terjangkau," pungkas Syailendra.

(aid/eds)

Tag Terpopuler