Lagi Heboh soal Buzzer, Berapa Sih Kira-kira Bayarannya?

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 01 Feb 2021 13:49 WIB
Ilustrasi Buzzer/Foto: detik
Jakarta -

Belakangan ini nama Permadi Arya alias Abu Janda kembali jadi buah bibir terkait buzzer. Selain itu, Abu Janda terkait dugaan rasis terhadap mantan anggota Komnas HAM Natalius Pigai dan cuitannya tentang 'Islam Arogan'.

Sebelum kasus-kasus tersebut, Abu Janda sudah kerap menuai kontroversi di media sosial. Keberaniannya bersuara di medsos dilirik oleh tim sukses Jokowi. Ia kemudian direkrut menjadi influencer di medsos atau yang kerap dikenal buzzer selama kampanye pemilihan presiden lalu. Selama jadi buzzer, ia mengaku menerima penghasilan yang tidak sedikit.

"Saya direkrut 2018 dengan gaji bulanan, gede lo," ujar Abu Janda kepada tim Blak-blakan detikcom, Jumat (29/1/2021).

Lalu, berapa sih rata-rata duit yang masuk ke kantong buzzer?

Sebelumnya, detikcom pernah mewawancarai seorang buzzer. Berdasarkan wawancara tersebut diketahui dia pernah terlibat dalam giring-menggiring opini.

Narasumber yang enggan menyebut identitasnya ini mengaku terlibat menjadi buzzer sejak 2016. Sejak menjadi buzzer, sejumlah klien pernah ia tangani, dari mulai menggiring isu untuk perusahaan hingga kasus hukum kopi bersianida Jesicca-Mirna. Puncak karirnya jadi buzzer ialah saat pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Cara kerjanya, sang bos akan menerima order dari klien, atau bisa saja dari tim yang lebih besar untuk event tertentu. Kemudian, order itu dijalankan oleh buzzer. Selanjutnya, mereka akan memperoleh pendapatan dari kerjanya tersebut dengan beragam indikator sejauh mana isu itu menyebar.

Mengenai pembayaran, dia mengaku biasa mendapat gaji bulanan layaknya pegawai kantoran.

"Kalau sistem bisnisnya kerja aja, bayar gaji bulanan, per project. Tapi biasanya bulanan. Jadi si klien 'nanti gue bayar sebulan', all in, budget segini lu bikin tim. tergantung kebutuhan sih," terangnya kepada detikcom, Selasa (2/4/2019).

Sedangkan untuk nominal pembayarannya atau nilai order bergantung pada besar kecilnya isu hingga tenaga yang dikerahkan. Dia mengaku tak bisa merinci nilai order yang biasa diterima oleh atasannya.

Meski demikian, dia memperkirakan Rp 50 juta hingga Rp 100 juta untuk tiap proyek isu.

Kemudian uang tersebut akan dibagi-bagikan menjadi gaji untuk para buzzer. Untuk pekerja lapis bawah biasa menerima gaji sebesar UMR per bulan, sedangkan dia yang bertindak sebagai koordinator menerima upah lebih besar.

"Kalau tim nggak terlalu tahu pasti, karena yang pegang bos gue, waktu itu gue koordinator doang. Tergantung isu, tapi rata-rata Rp 50 juta- Rp 100 juta, sampai man power 10 orang. Nanti per orang UMR lah, Rp 3,5 juta-Rp 5 juta lah kalau buat yang di bawah. (Kalau koordinator?) Gue kemarin Rp 6 juta," paparnya.

Bagaimana dengan bayaran buzzer di luar negeri?

Serupa dengan di Indonesia, bayaran buzzer di luar negeri juga cukup fantastis. Mengutip situs SimplyHired, bayaran terendah seorang buzzer profesional di seluruh dunia bisa mencapai mencapai US$ 32.319 per tahun atau setara Rp 425,4 juta (kurs Rp 14.000/US$). Per bulannya, seorang buzzer profesional bisa menerima penghasilan sebesar Rp 37,7 juta.

Sedangkan, penghasilan rata-rata seorang buzzer profesional di seluruh dunia bisa mencapai US$ 71.691 per tahun atau sekitar Rp 1 miliar per tahun (kurs Rp 14.000/US$). Dengan kata lain, setiap bulannya seorang buzzer profesional bisa menerima penghasilan sebesar Rp 83,6 juta. Lalu, bayaran tertinggi yang bisa diterima seorang buzzer profesional bisa mencapai US$ 159.023 per tahun setara Rp 2,22 miliar atau Rp 185,5 juta per bulan.

Tonton juga: KSP: Pemerintah Gunakan Influencer untuk Tujuan Positif!

[Gambas:Video 20detik]



(hns/hns)

Tag Terpopuler