Kudeta Myanmar, Apa Pengaruhnya ke Hubungan Dagang RI-Myanmar?

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 03 Feb 2021 19:35 WIB
Militer Myanmar melakukan kudeta dan menahan Aung San Suu Kyi. Aksi ini medapat protes di sejumlah negara.
Kudeta Myanmar membuat negara tersebut dikuasai militer. Adakah pengaruhnya pada hubungan perdagangan Indonesia-Myanmar? (Foto: AP Photo)
Jakarta -

Kudeta Myanmar yang dilancarkan kubu militer kembali mengguncang situasi politik di negara berjuluk "negeri seribu pagoda" itu. Adakah pengaruh kudeta tersebut pada hubungan dagang Indonesia-Myanmar?

Militer yang dipimpin Jenderal Min Aung Hlaing pada Senin (1/2/2021) lalu mengambilalih kekuasaan dengan menahan pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, Presiden Win Myint, dan ratusan anggota parlemen.

Angkatan bersenjata menuding telah terjadi kecurangan dalam pemilu Myanmar November 2020 lalu. Saat itu Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin Aung San Suu Kyi meraih kemenangan telak.

Hubungan antara Indonesia dengan Myanmar telah terjalin lebih dari 70 tahun dan nyaris tanpa riak. Sejarah mencatat Myanmar merupakan salah satu negara tetangga yang turut mengakui proklamasi kemerdekaan Indonesia.

"Kedua negara ini memiliki sejarah yang hampir sama, membebaskan diri dari penjajahan asing," kata mantan Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kementerian Luar Negeri (2002-2004) Makarim Wibisono pada detikcom beberapa waktu lalu.

Hubungan dagang kedua negara juga terbangun sangat baik. Pada 1966, terjadi pertukaran beras dari Myanmar dan rempah dari Indonesia. "Saat itu, impor beras sangat membantu Indonesia," ujar Makarim. Meski beberapa kali terjadi kudeta Myanmar, relasi Myanmar-Indonesia terbilang tetap baik.

Dikutip dari CNBC Indonesia, kerja sama Indonesia dan Myanmar nilainya memang tidak signifikan. Namun terus mengalami peningkatan apalagi sejak terjadinya demokratisasi ekonomi Myanmar. Bagi Indonesia terutama untuk pelaku usaha, Myanmar dianggap sebagai salah satu destinasi untuk investasi.

Fokus kerja sama investasi antara Indonesia dengan Myanmar meliputi beberapa sektor industri mulai dari pengolahan dan pengemasan, pulp & kertas, batik, produksi pupuk, perangkat lunak sistem, manajemen hotel, farmasi, konstruksi, produk semen & bahan konstruksi, hingga barang konsumen.

Beberapa perusahaan Indonesia, telah melirik melakukan ekspansi ke Myanmar. Misalnya produsen semen PT Semen Indonesia dan juga emiten tambang PT Timah Tbk (TINS) yang dikabarkan mendapat konsesi tambang timah hingga 4.000 hektar di tahun 2013.

Duta Besar RI untuk Myanmar, Idi Fadri menyebut nilai transaksi perdagangan kedua negara lebih dari US$ 1 miliar. "Neraca perdagangan kita positif, artinya kita lebih banyak mendapat devisa," ujar Idi pada CNBC Indonesia Rabu (32/2021).

Nilai ekspor Indonesia ke Negeri Pagoda Emas itu rata-rata mencapai US$ 766 juta pada periode 2015-2019. Komoditas yang paling banyak diekspor ke Myanmar adalah minyak nabati seperti CPO yang nilainya mencapai US$ 456 juta atau lebih dari 50% dari total ekspor.

Sementara nilai ekspor Myanmar ke Indonesia sekitar US$ 150 juta yang didominasi oleh komoditas tambang seperti tembaga dan timbal serta komoditas pertanian seperti coklat dan sayur-sayuran lain.

Menurut analisis CNBC Indonesia ditinjau dari sisi perdagangan maupun investasi, Myanmar bukanlah mitra strategis bagi Indonesia. Sehingga kudeta Myanmar tidak berdampak signifikan secara makro.

Hanya saja untuk sektor-sektor tertentu terutama perusahaan-perusahaan yang berinvestasi di Myanmar, kudeta tentu jadi ancaman besar.

(pal/erd)