Kisah Inspiratif

Awal Karier Bos Under Armour: Numpang Menjahit di Rumah Nenek

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 05 Feb 2021 08:30 WIB
Kevin Plank
Foto: Kevin Plank/CNBC
Jakarta -

Kevin Plank adalah salah satu orang terkaya di Amerika Serikat (AS). Salah satu kekayaannya berkat brand kebutuhan olahraga, Under Armour yang didirikannya pada 1996.

Mengutip Forbes, Jumat (5/2/2021), pria 48 tahun yang dikaruniai dua anak itu memiliki kekayaan mencapai US$ 1,7 miliar atau setara Rp 23,8 triliun (kurs Rp 14.000/US$).

Sama seperti kebanyakan pebisnis sukses lain, Kevin Plank dalam memulainya tidak mudah. Dikutip dari CNBC, dia mulanya menjahit untuk produknya itu di ruang bawah tanah rumah neneknya di Washington D.C dan baru bisa menghasilkan US$ 17.000 atau Rp 238 juta dalam penjualan di tahun pertama.

Ide Kevin Plank dalam memulai bisnis bisa dibilang sederhana. Dia dan teman satu tim sepak bolanya merasa frustasi karena selalu berkeringat dengan kaus katun yang dipakai, akhirnya peluang itu dimanfaatkan dengan menawarkan kebutuhan pakaian olahraga yang lebih baik berbahan lycra.

Kevin Plank merancang lapisan dasar sintetis untuk menciptakan bahan anti keringat. Dia mengembangkan berbagai macam produk Under Armour dari sana menjadi baju lengan panjang, perlengkapan cuaca dingin, hingga sepatu untuk sepak bola dan lari.

Pada 1998, kantor pusat Under Armour dipindahkan dari ruang bawah tanah neneknya menjadi ke Baltimore. Sejak awal muncul, bisnisnya telah menghadapi banyak rintangan karena harus bersaing dengan brand serupa seperti Nike dan Adidas.

Berkat kepercayaan dirinya yang tinggi, kini bisnis Kevin Plank semakin tumbuh dan bisa bersaing dengan dua perusahaan raksasa tersebut. Buktinya pada 1999 Under Amour mendapat kesempatan menampilkan produknya dalam film Oliver Stone 'Any Given Sunday', yang dibintangi Al Pacino dan Jamie Foxx.

Sejak saat itu bisnisnya semakin cemerlang dan semakin diketahui masyarakat luas. Pada 2001, Under Armour menjadi pemasok resmi National Hockey League dan memiliki kesepakatan lisensi dengan Major League Baseball dan USA Baseball.

Pada 18 November 2005, Kevin Plank mengumumkan Under Armour kepada publik dan mengumpulkan US$ 157 juta dalam IPO perusahaan. Pada 2010 perusahaan mencatatkan penjualan tahunan melampaui US$ 1 miliar, terus naik sampai pada 2010 mendapat US$ 5,2 miliar.

Tahun 2017 adalah yang sulit bagi Kevin Plank. Saham Under Armour turun lebih dari 40%, perusahaan melaporkan kerugian kuartalan pertamanya. Under Armour kemudian mengumumkan pada September 2018 bahwa mereka memangkas 3% tenaga kerjanya secara global untuk menekan biaya.

Penjualan Under Armour di Amerika Utara turun 2% pada 2018 menjadi US$ 3,7 miliar. Pada bulan September mereka menunjuk Stephanie Pugliese sebagai presiden baru divisi itu, menawarkan kepada Wall Street secercah harapan bahwa perjuangan Under Armour mungkin mereda di bawah manajemen baru.

Namun secara mengejutkan diumumkan bahwa Kevin Plank mengundurkan diri sebagai CEO pada 2019 dan digantikan oleh COO Patrik Frisk. Meski begitu, sebagai ketua eksekutif dan kepala merek dia tetap bekerja sama.

Kini Kevin Plank tinggal memiliki sekitar 16% saham di Under Armour. Bagaimana detikers menurut kalian perjalanan bisnisnya?

(zlf/zlf)