Sejarah Cukai Rokok di RI, Mulai dari Zaman Kerajaan

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 07 Feb 2021 09:01 WIB
Harga rokok akan berubah seiring kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) atau cukai rokok, yang rata-rata 12,5% mulai hari ini, Senin (1/2/2021).
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pemerintah memutuskan cukai hasil tembakau (CHT) alias cukai rokok naik 12,5% per 1 Februari 2021. Kenaikan itu otomatis membuat harga rokok lebih mahal.

"Kenaikan cukai hasil tembakau ini akan menyebabkan rokok jadi lebih mahal. Atau affordability indeksnya naik jadi 12,2% jadi 13,7-14% sehingga makin tidak dapat terbeli," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pada 10 Desember 2020 lalu.

Kebijakan itu diambil dari sisi kesehatan untuk dapat mengendalikan konsumsi rokok dan menurunkan prevalensi merokok terutama pada anak-anak dan perempuan.

"Prevalensi merokok untuk anak anak usia 10-18 tahun akan tetap diupayakan diturunkan sesuai RPJM. Saat ini 9,1% akan diturunkan di 8,7% pada tahun 2024," ucapnya.

Menarik untuk tahu, bagaimana RI menerapkan cukai rokok yang kemudian berpengaruh pada harga?

Lahirnya cukai rokok ini ternyata memiliki cerita tersendiri dari Kerajaan Jawa pada abad ke-17. Alkisah ada wanita cantik bernama Rara Mendut yang dilamar panglima perang sultan agung dari Kerajaan Mataram, Tumenggung Wiraguna yang kala itu berkuasa pada 1627.

Namun lamaran Wiraguna ditolak mentah-mentah. Dia pun mewajibkan Rara untuk membayar pajak tiga real sehari kepada Kerajaan Mataram. Bila tak sanggup, Rara harus bersedia jadi istri Wiraguna.

Rara menyanggupi dan memutuskan untuk berdagang rokok agar bisa membayar pajak itu. Berkat kecantikannya, rokok yang dijual Rara di warung kecilnya itu laku keras. Dari situ lah pengenaan cukai rokok dimulai.

Kemudian, peraturan cukai rokok mulai tertera secara tertulis pada masa kolonial. Seiring waktu, muncul perusahaan rokok kretek, dari kelas teri hingga kakap. Penelitian Van der Reijden pada 1935 melaporkan, di Kudus saja pada 1932 sudah ada 165 pabrik yang dimiliki Mas Nitisemito dengan merek Bal Tiga. Maka, kretek Jawa menjadi saingan rokok putih impor.

"Van der Rijden menyatakan, pada 1931 produksi rokok putih mencapai 7.100.000.000 batang per tahun. Sedang produksi rokok kretek 6.422.500.000 batang," tulis Rudy Badil dalam buku Kretek Djawa.

Lantas, pemerintah kolonial ambil sikap dan membedakan cukai rokok putih dan asli ini, dengan mengeluarkan Staadsblad Nomor 427 Tahun 1935, yang mengatur soal harga eceran minimum rokok putih, untuk tak menekan industri rakyat kecil.

lanjut ke halaman berikutnya

Saksikan juga video 'Harga Rokok Resmi Naik, Cek di Sini Daftarnya!':

[Gambas:Video 20detik]