UMKM Bertahan di Tengah Pandemi Lewat Digitalisasi, Ampuh Nggak?

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 11 Feb 2021 18:31 WIB
UMKM
Ilustrasi/Foto: shutterstock
Jakarta -

Pandemi COVID-19 dimanfaatkan oleh banyak pihak termasuk pemerintah untuk melakukan transformasi ekonomi dari yang konvensional menuju digital. Selama pandemi, masyarakat dibiasakan bersosialisasi melalui teknologi digital.

Hal itu menyusul kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat demi menekan angka penyebaran COVID-19. Transformasi ekonomi konvensional menuju digital pun dianggap ampuh bagi pelaku UMKM untuk tetap mempertahankan bisnisnya di tengah ketidakpastian.

Ketua Umum Asosiasi UMKM Indonesia (AKUMINDO) Ikhsan Ingratubun mengatakan, UMKM dipastikan akan bisa bertahan apabila mampu bertransformasi. Transformasi dimaksud adalah pertama, berbisnis secara digital. Kedua, bertransformasi dalam hal model bisnis yaitu tidak hanya memperdagangkan barang melainkan juga jasa.

Dia mencontohkan seperti pelaku UMKM maupun pedagang kelontong yang menjadi agen BNI.

"Apa yang dilakukan BNI sangat tepat karena tidak hanya menyalurkan pembiayaan, tetapi menambah nilai bagi debiturnya, dalam hal ini melalui program kredit yang dilengkapi oleh Agen46," kata Ikhsan seperti dikutip, Kamis (11/2/2021).

Hal senada diungkapkan oleh Ketua UKM Center Universitas Indonesia (UI) Zakir Mahmud. Dia mengatakan apa yang dilakukan oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk sudah sesuai jalurnya, membantu pembiayaan UMKM melalui berbagai program kredit.

"Sedangkan kami, UKM Center UI yang telah memiliki ribuan UMKM binaan, membuka peluang kerjasama dengan perbankan untuk melakukan pendampingan agar kapasitas dan kapabilitas pelaku usaha mikro kecil lebih tahan menghadapi berbagai situasi dan kondisi termasuk saat pandemi seperti sekarang ini," kata dia.

Sebagai contoh, Toko Merah milik Slamet berhasil menjadi toko modern karena berhasil bertransformasi. Toko yang berlokasi di Perumahan Pondok Surya Mandala, Bekasi, Jawa Barat ini sejak 16 tahun merupakan toko kecil berukuran 2 x 3 meter.

Butuh setidaknya 4 tahun bagi Slamet untuk merubah warung kecilnya menjadi sebuah toko. Transformasi warung menjadi toko merupakan buah dari kombinasi sikap positif seorang Slamet di masa awal usahanya, mulai dari sikap berani keluar dari zona nyaman, terbuka pada perubahan, rajin menggali ilmu baru, dan keinginan kuat untuk maju.

Usaha warung mulai dijalankan Slamet bersama istrinya sejak tahun 2005. Waktu itu modal awalnya adalah Rp 1,5 juta. Pada hari pertama berjualan, omzet jualannya mencapai Rp 200.000.

"Itu besar sekali, bandingkan dengan modalnya. Saya sangat bersyukur, baru buka sudah dapat Rp 200.000. Waktu itu, warga di sekitar warung menyebutkan dengan Warung Merah karena dicat merah. Setahun kemudian dari laba yang ada, kami tambah stok barang," katanya.

Meski toko modern sudah menjamur, Slamet tidak gentar. Bekal berbagai kursus dan bimbingan berbagai pihak yang telah dia dapatkan sebelumnya benar-benar dia terapkan. Bekal ilmu untuk mengubah warung sederhana dan tradisional menjadi toko modern yang terang benderang, tertata rapi, bersih dan nyaman bagi pembeli telah dia miliki, hingga Slamet berani menambah luas toko nya. Tahun 2009, warung kecil itu berubah menjadi sebuah toko, dan nama pun berubah menjadi Toko Merah.

Saksikan juga 'Bikin Laper: Sensasi Makan Nasi Bali Buatan UMKM Online':

[Gambas:Video 20detik]



(hek/ara)