Menkeu Kecewa Peringkat Utang RI
Senin, 13 Feb 2006 11:45 WIB
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengaku kecewa dengan peringkat utang Indonesia saat ini. Dengan kondisi makro ekonomi yang lebih baik, Indonesia mestinya mendapat peringkat utang lebih tinggi."Sebagai pemerintah, kita ada dissapointed. Dari sisi rating, kita terlalu rendah dibanding negara lain yang sifatnya secara de facto indikator makro ekonominya lebih rendah," ujar Sri Mulyani di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (13/2/2006).Dengan rendahnya peringkat utang itu, maka cost of borrowing yang harus dibayar pemerintah Indonesia menjadi terlalu tinggi.Selain itu, rendahnya peringkat utang itu membuat Indonesia akhirnya memilih untuk mencari utangan secara bilateral ataupun ke lembaga multilateral.Perjanjian pinjaman melalui kedua lembaga ini, menurut Sri Mulyani, biasanya dilakukan tanpa melihat nilai peringkat utang. Namun ada juga sisi negatif, yakni lembaga bilatarel atau multilateral itu cenderung melakukan intervensi terhadap kebijakan pemerintah."Kalau kita pinjam, proses negosiasinya itu biasanya (ditanya), uang itu dipakai untuk apa, programnya apa dan they are going to ask a lot of question. Ini yang secara politik dianggap sebagai suatu ketidaknyamanan dan bahkan sampai dianggap ekstrem, yakni adanya intervensi dari pemerintah," cetus Sri Mulyani.Sementara jika meminjam melalui pasar uang, uangnya memang bisa langsung diterima dan pemerintah dapat menggunakan uang tersebut untuk program apapun.Untuk itu, pemerintah akan berupaya meningkatkan peringkat utang agar nantinya bisa memilih sumber pendanaan yang lebih banyak dan mempunyai posisi tawar-menawar yang lebih kuat di depan kreditor. "Kita bisa memilih utang mana tanpa sampai mengorbankan kebijakan kita. Itu tugas kita," tegas Sri Mulyani.
(qom/)











































