3 Alasan RI Lunasi Utang ke IMF

3 Alasan RI Lunasi Utang ke IMF

- detikFinance
Senin, 13 Feb 2006 16:19 WIB
Jakarta - Indonesia setidaknya punya 3 alasan kuat untuk melunasi utang ke IMF. Yang pasti, pelunasan itu bukan bagian dari upaya Menkeu Sri Mulyani untuk menunjukkan dirinya bukanlah bagian dari IMF."Saya rasa tidak ada yang perlu dibuktikan. Yang kita lakukan adalah kalkulasi yang akurat. Jika ada opportunity dan cost benefit yang memang sangat baik, maka akan kita lakukan," tegas Sri Mulyani di depan anggota Komisi XI DPR RI dalam raker di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (13/2/2006).Ketiga alasan itu adalah: pertama, karena ada peningkatan cost of borrowing menyusul adanya kenaikan suku bunga sejak kuartal III-2005. Adjusted rate of charge IMF meningkat dari 4,31 persen menjadi 4,58 persen. Hal ini sejalan dengan kenaikan treasury yang kini sedang terjadi di seluruh dunia. "IMF dalam penetapan SDR rate-nya menggunakan T-bills sebagai salah satu benchmark untuk mengkalkulasi remunary. Jadi suku bunga naik sejak kuartal III-2005 menjadi 4,58 plus marjin 1,08 persen," urai Sri Mulyani. Kedua, percepatan pembayaran utang telah diakui BI akan menguntungkan balance sheet BI. Ketiga, faktor cadangan devisa yang akan tergerus untuk membayar utang ke IMF mengingat Indonesia meminjam dalam rangka memperkuat cadangan devisa. "Kalau BI akan membayar tentu ada masalah lagi yaitu cadangan devisa dan kemampuan kita untuk men-generate valas yang sama, yang tujuannya untuk menciptakan stabilitas dari kebutuhan impor maupun juga kebutuhan ekonomi terhadap valas yang harus merupakan salah satu kriteria. Untuk itu perlu dilakukan konsultasi dengan BI," papar Sri Mulyani.Sementara Meneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta menegaskan, pemerintah akan me-review seluruh perjanjian utang dalam jangka waktu 10 tahun ke belakang yakni 1995-2005. Nilai pinjaman proyek yang sedang berjalan adalah US$ 15 miliar dengan tingkat penarikan pinjaman proyek setiap tahunnya US$ 2-2,5 miliar. Sementara pinjaman yang belum diserap US$ 8,6 miliar. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads