Labu Siam 'Baby' Lebih Untungkan Petani, Cepat Panen dan Lebih Mahal

Nurcholis Maarif - detikFinance
Selasa, 23 Feb 2021 10:52 WIB
Labu siam atau labu acar kini banyak ditanam oleh petani di Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasir Jambu, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hal itu karena harga labu siam sedang tinggi.
Foto: Agung Pambudhy
Kabupaten Bandung -

Labu siam 'baby' punya potensi yang menggiurkan untuk petani. Sebab selain mudah ditanam dan bisa dipanen setiap dua hari sekali, harga labu 'baby' juga cukup tinggi di pasaran.

Dede Koswara (32), petani asal Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasir, Kabupaten Bandung menjelaskan ada lima jenis labu yang dibedakan berdasarkan ukurannya dari yang terkecil yaitu baby, acar, DN, TW, dan jumbo.

Meski ukurannya paling kecil, labu baby justru yang paling mahal di antara empat jenis labu lainnya. Jadi, semakin besar ukuran labu, biasanya harganya semakin murah. Namun, menurut Dede, saat ini yang paling banyak dijual di pasaran biasanya labu berjenis acar.

"Ada baby Rp 3.700 per kg, sekarang sudah Rp 4.000 kg. Kalau lagi mahal bisa Rp 12 ribu per kg, itu pernah tahun 2018. Sementara yang gede (harganya) murah, kebanyakan yang sukanya ini (yang baby dan acar) buat hipertensi," ujarnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Dede mengatakan harga labu siam sebagaimana komoditas hortikultura lainnya biasanya mengikuti mekanisme pasar. Saat kebutuhan meningkat dan kebutuhan pasar tinggi, maka harga akan semakin tinggi, begitu pun sebaliknya.

"Kalau di sayuran tuh 2 kali 2 bisa 10, bisa 7, bisa minus. Kita kalau sayuran jam-jaman (harganya di pasar), kalau labu yang kecil tuh misalkan siangnya Rp 3.000 per kg, sorenya (stok pasar) kosong bisa Rp 4.000 per kg atau Rp 5.000 per kg pas di pasarnya, begitu pun sebaliknya kalau malamnya banyak bisa lebih murah," ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan proses panen labu jenis baby biasanya dilakukan dua hari sekali. Adapun labu jenis acar, DN, TW, dan Jumbo biasanya merupakan dari labu baby yang terlewat dipanen oleh petani dalam jeda dua hari tersebut. Jadi, momentum waktu panen labu baby tersebut tidak boleh dilewatkan petani agar tidak semakin membesar.

Petani Muda di Bandung Beromzet Puluhan Juta dari Jual SayuranPetani Muda di Bandung Beromzet Puluhan Juta dari Jual Sayuran Foto: Agung Pambudhy

Selain itu, dari satu bibit labu biasanya bisa terus panen dan bertahan selama 3 sampai 4 tahun. Namun Dede menekankan agar labu bisa bertahan dalam kurun waktu tersebut diperlukan sumber daya air yang cukup, budi daya yang baik, dan pengecekan rutin paranggong (bambu penyangga labu). Jika tidak, maka tanaman labu biasanya hanya bertahan 1 hingga 2 tahun.

"Per 1 tumbak (1.400 meter, misalnya butuh biaya awal) tuh Rp 100 juta, biayanya sampai 3 bulan ke depan Rp 10-15 juta. Rata-ratanya (bisa panen) 1 kwintal per hari, berarti ngehasilin labanya berapa karena kan bisa 3-4 tahun, karena kan panennya terus, lihat aja paranggongnya (bambu penahan tanamannya)," ujarnya.

Dede menilai labu, terutama jenis baby punya permintaan tinggi di pasar karena punya manfaat untuk kesehatan, terutama penurun hipertensi. Namun ia sendiri belum tahu pasti saat di pasar, labu siam ini lebih banyak untuk konsumsi langsung atau digunakan sebagai bahan lain seperti kosmetik.

Ia tahu permintaan pasar itu tinggi karena setiap hari Gapoktan Regge Generation yang dipimpinnya selalu mengirim hingga 20 ton labu siam ke beberapa pasar induk yang ada di Tangerang, Bogor, Bandung, hingga Cirebon. Menurut Dede, jumlah labu siam ini belum lagi ditambah dari dari petani atau gapoktan dari daerah lain.

Labu siam atau labu acar kini banyak ditanam oleh petani di Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasir Jambu, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hal itu karena harga labu siam sedang tinggi.Labu siam atau labu acar kini banyak ditanam oleh petani di Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasir Jambu, kabupaten Bandung, Jawa Barat. Hal itu karena harga labu siam sedang tinggi. Foto: Agung Pambudhy

"Kalau kemarin mayoritas di tahun 2019-2020 puncaknya nyampe 30 ton, kalau sekarang cuma 20 ton, sudah berkurang karena pandemi. Produksinya yang turun, permintaan tetap, cuma produknya yang turun," ujarnya.

Lebih lanjut Dede menjelaskan dari produksi labu tersebut, Gapoktan Regge Generation masuk dalam program inkubator bisnis milik Bank BRI. Saat ini Desa Cukanggenteng bahkan dikembangkan menjadi agrowisata kampung labu acar di Kabupaten Bandung.

Gapoktan Regge Generation juga mendapatkan berbagai bantuan dari Bank BRI, seperti mesin cultivator, timbangan digital, tray, mesin sachen, dan sprayer. Gapoktan ini juga mendapatkan bantuan modal demplot atau greenhouse untuk pengembangan komoditas lain, yaitu paprika.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

Lihat juga Video: Resep Kari Labu Siam

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Dari Rancabali sampai Pengalengan, untuk Kopi dan Strawberry."
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)