Menperin-Kadin Gelar Dialog
Jumat, 17 Feb 2006 10:13 WIB
Jakarta - Dua pihak yang sempat berseteru soal kenaikan tarif dasar listri (TDL) yakni Menteri Perindustrian (Menperin) Fahmi Idris dan anggota Kadin, bertemu. Sekitar 200 pengusaha anggota Kadin memenuhi ruang pertemuan di Menara Kadin lantai 29, Jalan HR Rasuna Said, Jaksel. Saking penuhnya, wartawan pun tak bisa masuk ke dalam ruangan. Dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat (17/2/2006) mulai pukul 09.00 WIB itu, Fahmi didampingi Dirjen Industri Kecil dan Menengah Sakri Widianto. Sementara dari petinggi-petinggi Kadin yang hadir antara lain MS Hidayat, Rahmat Gobel, Haryadi Sukamdani, Agusman Effendi, Benny Sutrisno, Bambang Trisulo. Sofjan Wanandi tidak tampak hadir. Fahmi memulai penjelasannya dengan memaparkan sejumlah langkah yang sudah diambilnya sejak dirinya menjabat sebagai Menperin. Ia pun memaparkan kebijakannya di bidang industri, permodalan, tingginya suku bunga dan masalah pasokan gas bagi industri pupuk. Fahmi juga menjelaskan soal pertemuan tiap Jumat pagi yang digelarnya dengan asosiasi industri dalam rangka mendalami masalah-masalah industri. Para pengusaha, imbuh Fahmi bisa curhat apa saja.Ia juga mengaku para menteri-menteri dan Gubernur BI minta diundang dalam pertemuan Jumat pagi tersebut. Usai membeli penjelasan ngalor ngidul, Fahmi pun membuka sesi tanya jawab. "Saya buka dengan satu syarat tidak boleh ancam mengancam," canda Fahmi yang mengenakan batik coklat itu.Pernyataan Fahmi pun dibalas para anggota Kadin. "Nanti kita mau diancam balik ya?" cetus anggota Kadin.Sebelumnya, Menperin dan Kadin sempat berseteru soal kenaikan TDL. Perseteruan dimulai ketika pemerintah mengumumkan akan ada kenaikan TDL, salah satu Ketua Kadin Hariyadi Sukamdani mengatakan, pengusaha akan memboikot pembayaran listrik jika tarif naik.Pernyataan itu kemudian direvisi oleh Ketua Kadin MS Hidayat yang menjelaskan, bahwa pengusaha Kadin bisa menoleransi kenaikan TDL di bawah 20 persen.Namun pada 8 Februari Kadin mengeluarkan pernyataan resmi, yang menolak sama sekali kenaikan TDL setelah mendengarkan keluhan dari 100 asosiasi industri.Pernyataan resmi itu disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Sofjan Wanandi saat mendampingi Ketua Kadin Indonesia MS Hidayat dalam jumpa pers saat itu.Alasannya, beban akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) belum teratasi sedangkan biaya ekonomi tinggi belum mampu dipangkas serta belum direalisasikannya insentif yang dijanjikan pemerintah. Atas semua pernyataan Kadin tersebut, Fahmi menanggapinya dengan sinis. "Statement Kadin bermacam-macam pendapatnya, kita sendiri bingung mana yang benar. Hidayat sampai detik ini kan Ketua Umum Kadin, dia pernah menyatakan toleran dengan kenaikan di bawah 20 persen. Artinya yang disampaikan Hidayat adalah riil seorang pengusaha," ujar Fahmi pekan lalu.
(qom/)











































