Siap-siap! Harga Emas Bakal Naik Sebentar Lalu Anjlok Berkepanjangan

Danang Sugianto - detikFinance
Rabu, 24 Feb 2021 12:15 WIB
Petugas menunjukan emas imitasi di gerai Antam di kawasan Jakarta Pusat, Senin (18/1/2021). Hari ini saham ANTM turun cukup dalam hingga 6,73%.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Pergerakan harga emas diramalkan akan bergerak positif dalam jangka pendek. Namun akan terus dalam tren negatif dalam jangka menengah dan panjang.

Jika dilihat dari harga emas Antam hari ini naik Rp 8.000 dari posisi kemarin ke level Rp 938.000 per gram. Namun harga emas Antam telah turun Rp 127.000 per gramnya dari posisi tertinggi Rp 1.065.000 per gram di 7 Agustus 2020.

Menurut Direktur TFRX Garuda Berjangka, Ibrahim kenaikan harga emas hari ini hanya bersifat jangka pendek. Didorong pernyataan Gubernur Bank Sentral AS atau Federal Reserve, Jerome Powell yang menyatakan akan terus mempertahankan suku bunga di posisi terendah dan menilai AS akan terus mengalami dampak negatif dari pandemi.

"Lalu ada kemungkinan pemerintah AS menggelontorkan stimulus. Ini yang membuat sentimen positif," tuturnya saat dihubungi detikcom, Rabu (24/2/2021).

Jika dilihat dari tren harga emas dunia memang hari ini naik tipis 0,06% ke posisi US$ 1.807 per ons. Menurut Ibrahim tren positif jangka pendek ini akan mendorong harga emas ke level US$ 1.900 per ons.

Namun secara jangka menengah dan panjang harga emas akan kembali lagi ke zona merah. Bahkan menurut Ibrahim harga emas bisa menyentuh level US$ 1.600 per ons.

"Kenapa angka US$ 1.600 karena di 2020 saat emas dunia menyentuh US$ 2.080 1 bulan berikutnya menyentuh level US$ 1.745 terendahnya. Jadi angka US$ 1.600 akan sangat wajar," terangnya.

Untuk tren negatif berkepanjangan ini lebih disebabkan karena faktor pendorong harga emas selama ini akan segera memudar. Faktor pendorong itu tidak lain dan tidak bukan adalah pandemi COVID-19.

Pandemi telah membuat ekonomi dunia terguncang. Banyak negara jatuh ke jurang resesi. Sangat wajar ketika ekonomi dunia dalam kepanikan, emas menjadi tujuan untuk mengamankan portofolio investasi.

Sementara menurut Ibrahim banyak negara sudah mulai melakukan vaksinasi. Mulai dari negara berkembang hingga negara besar seperti Inggris dan AS. Sehingga diperkirakan pemulihan ekonomi akan lebih cepat.

Sementara analis logam mulia di Credit Suisse, Fahad Tariq mengatakan harga emas memang rentan terhadap prospek ekonomi dan suku bunga. Dia menambahkan jika dilihat dari kenaikan imbal hasil obligasi, pasar dapat memperkirakan kenaikan suku bunga paling cepat pada pertengahan 2023.

Namun, dia menambahkan bahwa emas bisa mendapatkan dorongan jika Federal Reserve berbicara tentang potensi untuk menerapkan program pengendalian kurva hasil untuk membatasi kenaikan imbal hasil obligasi.

"Secara keseluruhan, lingkungan suku bunga riil dan sikap Fed tetap mendukung harga emas, tetapi kunci yang harus diperhatikan adalah jika imbal hasil terus meningkat dan tentu saja, jika Fed AS, pada kenyataannya, mengubah sikap dovish-nya. Tapi kami pikir ini tidak mungkin dengan melihat komentar baru-baru ini," tuturnya dilansir dari Kitco.



Simak Video "Update Harga Emas Antam: Naik Rp 1.000 ke Rp 1.028.000 /Gram"
[Gambas:Video 20detik]
(das/ang)