Bulog Coret Omega Trading Untuk Tender Gula

Bulog Coret Omega Trading Untuk Tender Gula

- detikFinance
Rabu, 22 Feb 2006 15:14 WIB
Jakarta - Badan Urusan Logistik (Bulog) mengeluarkan Omega Trading dari daftar peserta tender karena gagal melengkapi persyaratan hingga tenggat waktu 17 Februari.Padahal sebelumnya, Omega Trading memberikan penawaran terendah US$ 415 per ton dibandingkan 9 peserta lainnya. Omega dinilai gagal menujukkan performance bond.Demikian diunkapkan oleh Direktur IT dan Pengembangan Bulog Tito Pranolo, di Kantor Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu (22/2/2006).Untuk tahap selanjutnya, Bulog tidak akan melakukan tender ulang. Lima perusahaan yang masuk kategori penawar terendah akan dipanggil kembali dan diupayakan negosiasi ulang.Kelima perusahaan itu adalah Cargill International, NG Nambee Marketing, Tate & Lyle, Kery Foodstuff, dan Agrocrop atau Nimbark Intermational.Menurut Tito, tingginya harga gula di pasar internasional, akan membuat Bulog sulit mencapai harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah Rp 6.000/kg di pulau Jawa dan Rp 6.200 di luar Jawa.Tito menjelaskan, untuk penawaran terendah saja yang pernah diajukan Omega harga gula sebesar US$ 415 per ton.Harga ini akan ditambah bea masuk Rp 530/kg, kurs dan PPN 10 persen, PPh 2,5 persen, handling charge asuransi 0,5 persen, biaya gudang Rp 25/kg, biaya susut 1 persen, bunga bank 1,5 persen serta margin keuntungan Bulog."Bayangkan saja dengan harga segitu berapa nanti harga yang jatuh ke tangan konsumen," jelas Tito.Negosiasi yang akan dilakukan Bulog nantinya untuk mencari harga yang terendah. Serta komitmen peserta untuk mengantar sampai ke pelabuhan tujuan sebelum batas akhir izin Bulog dari Menteri Perdagangan sebesar 55 ribu ton pada 30 April.Gula impor tersebut rencananya akan masuk melalui beberapa pelabuhan di luar pulau Jawa antara lain Malahayati, Lhokseumawe, Padang, Bengkulu, Makassar dan Bitung.Melihat harga internasional yang sangat tinggi, Bulog meminta agar bea masuk lebih flekisibel, karena harga dalam negeri saat ini sudah lebih rendah dari harga internasional. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads