Menkeu Sri Mulyani:
Flu Burung Memperburuk Defisit
Kamis, 23 Feb 2006 17:52 WIB
Jakarta - Flu burung yang sudah menelan 19 korban di Indonesia diakui akan mempersulit posisi keuangan APBN. Defisit APBN 2006 pun diperkirakan semakin lebar.Membengkaknya defisit itu berhubungan dengan ganti rugi yang akan diberikan pemerintah Indonesia sebesar Rp 10.000 per ekor ayam atau burung. "Konsekuensi ekonomi pertama tentu seja terefleksi pada anggaran. Kami memperkirakan langkah itu akan memerlukan dana Rp 1,8 triliun hingga Rp 3 triliun. Hanya untuk wilayah yang terkena di Pulau Jawa. Hal ini jelas sekali akan meningkatkan defisit kita," ujar Menkeu Sri Mulyani di depan di depan Jakarta Foreign Correspondent Club (JFCC), Kamis (23/2/2006). Mengingat besarnya beban itu, pemerintah akan mencoba untuk berbagi beban ini dengan masyarakat. Alasannya, imbuh Sri Mulyani, di beberapa negara yang juga terkena flu burung seperti Vietnam, pemerintah dapat mematikan unggas-unggas tanpa perlu memberikan kompensasi. Untuk penanganannya, lanjut Sri Mulyani, maka perlu adanya restrukturisasi peternakan. "Kita perlu banyak program untuk meningkatkan cara mereka menjalankan bisnis dan caranya menangani unggas-unggas itu," tambahnya. Sri Mulyani mengakui, untuk sejumlah wilayah memang cukup mudah untuk menangani flu burung karena banyaknya bantuan, rumah sakit, laboratorium untuk mendeteksi flu burung. "Dan biayanya akan lebih banyak jika berurusan dengan masalah ini di level masyarakat. Tidak ada seorang pun yang akan menjamin bahwa Indonesia akan betul-betul bebas flu burung," ujarnya. Dalam kesempatan itu, Sri Mulyani juga menyampaikan bahwa dana sebesar Rp 13 triliun akan diluncurkan (carry over) pada kuartal I-2006 ini. "Dana sebesar itu cukup menggerakkan perekonomian pada kuartal pertama 2006," ujarnya.
(qom/)











































