CT: COVID-19 Bikin Gap Si Kaya dan Si Miskin Makin Lebar

Danang Sugianto - detikFinance
Kamis, 25 Feb 2021 10:25 WIB
Sejumlah tokoh hadir dalam diskusi ekonomi yang digelar oleh CNBC TV. Diskusi itu pun membahas mengenai kondisi ekonomi Indonesia saat ini.
Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung (CT)/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Pandemi COVID-19 telah membuat ekonomi Indonesia terguncang. Salah satu dampaknya adalah tingkat ketimpangan semakin lebar.

Founder and Chairman CT Corp Chairul Tanjung (CT) mengatakan tahun 2020 yang telah dilalui merupakan tahun yang paling berat. Pandemi COVID-19 telah membuat hampir seluruh sektor terhempas, terutama kesehatan dan ekonomi.

"Kita dalam melihat kondisi ekonomi kita, ekonomi dunia terburuk, ekonomi Indonesia juga buruk. Mengalami tekanan hebat. Melihat pengangguran, kemiskinan, capital inflow, NPL, GDP. Rupiah pada Maret sempat Rp 16.550 yang merupakan terendah sejak krisis 1998," ucapnya dalam acara CNBC Indonesia Economic Outlook 2021, Kamis (25/2/2021).

Tidak hanya itu, dampak pandemi juga membuat jurang antara orang kaya dan miskin semakin lebar. Itu merupakan dampak lain yang ditimbulkan selain krisis.

"Ternyata COVID-19 tak hanya menyebabkan terjadinya krisis tapi juga menyebabkan gap antara kaya dan miskin yang makin lebar," tuturnya.

Artinya, lanjut CT, selama pandemi ini orang kaya menjadi semakin kaya dan orang miskin semakin miskin. Orang kaya bertambah hartanya salah satunya dari penurunan nilai saham yang begitu tajam.

Mereka yang membeli saham pada saat jatuh sangat menguntungkan karena proses pemulihan nilai sahamnya kini jauh lebih besar dari penurunannya, bahkan dari posisi sebelum pandemi COVID-19.

"Sementara yang miskin kian miskin dan butuh waktu 10 tahun untuk bisa kembali status posisi sebelum COVID-19. Kita tak boleh menyerah. Harus melihat langkah apa untuk recovery yang harus dilakukan," tambahnya.

Sekadar informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengeluaran orang Indonesia yang diukur oleh gini ratio melebar menjadi 0,385 di September 2020. Angka ini meningkat 0,004 poin jika dibandingkan pada Maret tahun lalu yang berada di posisi 0,381.

Kepala BPS Suhariyanto menyatakan, tingkat ketimpangan pengeluaran orang Indonesia ini meningkat 0,005 poin jika dibandingkan dengan gini ratio per September 2019 yang sebesar 0,380.

"Untuk gini rasio, metodenya tidak berubah, tetapi seiring dengan naiknya tingkat kemiskinan maka gini rasio juga meningkat dari 0,380 menjadi 0,385," kata Suhariyanto dalam video conference, Senin (15/2/2021).

(das/ara)