Pedagang Cabai: Kalau Tidak Jual Rp 100 Ribu/Kg, Tak Dapat Untung

Achmad Syauqi - detikFinance
Jumat, 26 Feb 2021 14:46 WIB
Harga cabai di Pasar Kramat Jati, Jakarta Timur, masih ganas, Rabu (13/01/2021). Cabai rawit merah merah dibandrol Rp 75 ribu//Kg.
Foto: Rengga Sancaya
Klaten -

Intensitas hujan yang tinggi dan serangan jamur Patek membuat harga cabai rawit di Klaten, Jawa Tengah, tembus Rp 100.000 per kilogram (kg). Harga tersebut terjadi di tingkat eceran.

"Kalau di tingkat eceran harganya sudah sampai Rp 100.000 di warung -warung. Kalau di pedagang pasar saya jual Rp 90.000 atau Rp 95.000 per kilogram," ungkap Sukani, pedagang sayur di pasar Deli, Desa Dompoyongan, Kecamatan Manisrenggo pada detikcom, Jumat (26/2/2021) siang.

Menurut Sukani, harga sebesar itu sudah terjadi sejak beberapa pekan terakhir. Pedagang juga kesulitan mendapatkan pasokan.

"Ini saya tidak punya barang. Tadi pagi punya langsung dikirim ke Yogyakarta dengan harga Rp 90.000, adanya cabai keriting," kata Sukani.

Harga cabai keriting, jelas Sukani lebih murah. Untuk harga cabai merah keriting hanya Rp 60.000 per kilogram dan yang hijau di hargai Rp 26.000 per kilogram. Menurut Sukani, harga cabai rawit tinggi disebabkan karena hujan terus ditambah jamur patek.

Yuda, pedagang sayur keliling di Kecamatan Delanggu mengatakan harga di eceran keliling terpaksa menjual seharga 100.000. Penyebabnya karena di tingkat tengkulak pasar sudah Rp 98.000.

"Harga di pasar sudah Rp 98.000, kalau tidak dijual Rp 100.000 kita tidak dapat untung. Padahal sebelumnya sudah turun Rp 90.000 di pasar," jelas Yuda.

Kades Joton, Kecamatan Jogonalan, Aris Gunawan mengatakan hujan deras menyebabkan jamur Patek marak. Akibatnya panen cabai gagal. Harga cabai rawit di petani, terang Aris, sudah mencapai Rp 65.000 per kilogram. Dengan harga dari petani sebesar itu wajar jika di pasar sudah Rp 95.000.

"Saat harga di eceran Rp 100.000 dan di pasar Rp 95.000 wajar, sebab dari petani saja sudah Rp 65.000. Disini sudah tidak ada tanaman, padahal biasanya banyak," jelas Aris kepada detikcom di kantornya.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan Pemkab Klaten, Erni Kusumawati menjelaskan laporan terbaru pada Februari soal serangan jamur patek belum masuk. Namun cuaca hujan memang memicu jamur.

" Cuaca hujan begini perkembangan jamur bisa cepat. Bisa diinformasikan di kecamatan sudah ada upaya penanganan jamur," jelas Erni pada detikcom.

(hns/hns)