Luas Panen Padi Turun Jadi 10,66 Juta Hektare di 2020

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 01 Mar 2021 15:33 WIB
Sejumlah petani memanen padi di Cikarang, Jawa Barat. Meski panen kali ini terbilang cukup, tapi para petani ini tetap menjerit. Kenapa?
Ilustrasi/Foto: Rifkianto Nugroho/detikcom
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat luas panen padi seluas 10,66 juta hektare di 2020. Angka ini lebih rendah dibandingkan luas panen pada tahun sebelumnya yang mencapai 10,68 juta hektare.

Kepala BPS Suharyanto mengatakan luas lahan panen padi di tahun 2020 ini terjadi penurunan 0,19% jika dibandingkan tahun 2019.

"Total luas panen padi pada tahun 2020, 10,66 juta hektare. Hampir sampai pada tahun 2019, pada waktu itu 10,68 juta hektare. Jadi kalau turun, tipis sekali hanya 0,19% karena pada awal musim tanam 2020 terjadi curah hujan yang sangat tinggi," kata Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Senin (1/3/2021).

Penetapan luas lahan panen padi di 2020, kata Suhariyanto berasal dari kerja sama antara otoritas statistik nasional dengan BPPT, Kementerian ATR/BPN, BIG, dan LAPAN. Penetapan luas lahan ini menggunakan metode kerangka sampel area (KSA).

Pria yang akrab disapa Kecuk ini menyebut, puncak panen padi di tahun 2020 juga mengalami pergeseran dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2020 , puncak panen padi terjadi pada April yang mencapai 1,86 juta hektare. Sementara tahun 2019, terjadi pada Maret seluas 1,72 hektare.

"Potensi luas panen padi selama Januari-April 2021, jadi angka potensi ini berdasarkan pengamatan pada akhir Januari, potensi ini perlu kita amati agar kita bisa buat perencanaan lebih baik. Jadi kalau potensi luas panen padi adalah 4,86 juta hektare," ujarnya.

Untuk produksi padi di Indonesia, kata Kecuk, sepanjang tahun 2020 sebanyak 54,65 juta ton atau naik 0,08% dibandingkan tahun 2019 yang sebanyak 54,60 juta ton. Sementara di Januari-April, potensinya sebanyak 25,37 juta ton atau naik signifikan dibandingkan periode yang sama tahun 2020 dan 2019 yang masing-masing 19,99 juta ton dan 23,78 juta ton.

"Ini sebabkan harga beras 2020 sangat terjaga stabil dan tidak memberikan andil ke inflasi," tambahnya.

Sementara dikonversikan menjadi beras, Suhariyanto mengatakan potensi pada Januari-April 2021 sebesar 14,54 juta ton atau naik 26,84% atau setara 2,03 juta toan dari Januari-April 2020 yang sebesar 11,46 juta ton. Lalu naik 6,67% atau setara 0,91 juta ton dari Januari-April tahun 2019 yang sebesar 13,63 juta ton.

"Angka potensi ini sangat menjanjikan agar betul-betul terealisasi, yang perlu diwaspadai curah hujan tinggi yang menjadi tantangan gagal panen, kita lihat beberapa sentra produksi seperti Jatim banjir, kita berharap cuaca tidak buruk agar potensi ini terjaga," ungkapnya.

Tonton juga Video: Sambil Mendendangkan Nyanyian, Beginilah Masyarakat Sumba Menanam Padi

[Gambas:Video 20detik]



(hek/ara)