Inflasi Februari 0,10%, BPS: Permintaan Masih Lemah

Hendra Kusuma - detikFinance
Senin, 01 Mar 2021 15:40 WIB
Kepala BPS, Kecuk Suhariyanto
Foto: Kepala BPS Suhariyanto (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan rendahnya inflasi disebabkan masih lemahnya permintaan domestik. Hal itu menyusul dampak pandemi COVID-19 terhadap sektor sosial maupun ekonomi masyarakat.

BPS mencatat inflasi sebesar 0,10% di Februari 2021. Terjadi penurunan jika dibandingkan bulan Januari yang inflasinya sebesar 0,26% maupun bulan yang sama tahun sebelumnya sebesar 0,28%.

Berdasarkan komponennya, Kepala BPS Suhariyanto mengatakan inflasi inti juga mengalami perlambatan. Inflasi inti biasanya dianggap sebagai data yang menunjukkan tinggi atau rendahnya konsumsi masyarakat.

"Inflasi Februari terutama didorong inflasi inti dan administered price. Dilihat dari sisi supply berbagai bahan makanan sangat terjaga tapi dari permintaan masih cenderung lemah dan jadi tantangan utama kita semua bagaimana memperkuat konsumsi rumah tangga ke depan," kata Suhariyanto dalam video conference, Jakarta, Senin (1/3/2021).

Berdasarkan data BPS, inflasi inti tercatat sebesar 0,11% di Februari 2021. Angka ini turun dari posisi bulan sebelumnya yang mencapai 0,14% maupun Februari 2020 yang sebesar 0,14%. Sementara untuk inflasi harga diatur pemerintah atau administered price sebesar 0,21%, dan volatile food atau harga bergejolak terjadi deflasi 0,01%.

"Dapat disimpulkan, Februari 2021 ini terjadi inflasi sebesar 0,10% di mana secara tahunan inflasi sebesar 1,28%, laju inflasi lebih lambat dari bulan sebelumnya dan dari bulan yang sama tahun sebelumnya," jelasnya.

"Terlihat dampak pandemi masih belum reda dan terlihat permintaan domestik masih lemah," sambungnya.

Simak juga Video: Bencana Alam di Berbagai Daerah, Sri Mulyani Waspadai Inflasi

[Gambas:Video 20detik]



(hek/ara)