Peluang Bisnis Jamu Lagi 'Manis' Saat Pandemi, Segini Modal Usahanya

Jihaan Khoirunnisaa - detikFinance
Senin, 01 Mar 2021 18:52 WIB
Fryski (28) memetik bahan jamu di Desa Kiringan, Bantul, Selasa (16/2/2021).
Foto: Rifkianto Nugroho
Bantul -

Pandemi COVID-19 meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memelihara daya tahan tubuh. Salah satunya dengan meminum jamu yang dipercaya menyimpan sederet khasiat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.

Perubahan gaya hidup masyarakat yang mulai beralih ke minuman herbal tradisional karena dinilai lebih sehat, membuat jamu semakin naik daun. Tak ayal hal ini pun membuat peluang bisnis usaha jamu semakin terbuka lebar karena terbilang menjanjikan, baik untuk dijadikan bisnis utama maupun sampingan.

Salah satu penjual jamu milenial Fryski Purnamasari (27) mengatakan untuk memulai bisnis jamu tradisional perlu diawali dengan niat dan tekad agar muncul rasa percaya diri dan keyakinan bahwa semua akan berjalan lancar sesuai dengan rencana. Terkait modal, ia menilai jamu tradisional merupakan salah satu peluang bisnis yang tidak memerlukan modal besar alias minim. Hal ini karena bahan-bahannya bisa didapatkan dengan mudah.

"Modal awal Rp 5 juta itu sudah bisa untuk penjualan jamu. Kan bahan-bahan jamu mudah didapat. Jadi berpeluang sekali untuk bisnis," ujar Fryski atau yang akrab disapa Rizky kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Adapun peralatan yang diperlukan untuk membuat racikan jamu tradisional, utamanya jamu peras antara lain mesin penggiling jamu basah, parutan kayu, saringan, dan panci. Rizky mengatakan dulu ia menggunakan pipisan dan lumpang untuk membuat jamu, namun sekarang dirinya sudah beralih menggunakan mesin penggiling karena lebih efisien.

Sedangkan dalam membuat jamu instan diperlukan mesin penggiling khusus. Pasalnya, mesin penggiling untuk mengolah jamu basah atau jamu peras berbeda dengan mesin penggiling untuk jamu bubuk instan. Sayangnya, ia belum memiliki mesin tersebut, sehingga jamu diproses secara manual dengan menggunakan alat tumbuk sampai rempah menjadi serbuk halus. Tidak lupa mesin sealer untuk menutup kemasan jamu instan .

"Jamu itu jadi bubuk itu empon-empon kita kupas, kita potong kecil-kecil, habis itu kita jemur sampai benar-benar kering, kita tumbuk supaya jadi halus. Karena kita belum ada mesin untuk penggiling yang jadi bubuk," tuturnya.

Dusun Kiringan di Jetis, Bantul menjadi salah satu sentra jamu yang terkenal di Jogja. Hampir seluruh ibu-ibu di sana merupakan penjual jamu keliling.Dusun Kiringan di Jetis, Bantul menjadi salah satu sentra jamu yang terkenal di Jogja. Hampir seluruh ibu-ibu di sana merupakan penjual jamu keliling. Foto: Rifkianto Nugroho

Diungkapkan Rizky, penjual jamu harus menggunakan bahan-bahan berkualitas. Selain itu, penting bagi penjual untuk memastikan rasa dari jamu sebelum memasarkannya. Apakah layak untuk dikonsumsi atau tidak. Baru kemudian, jamu siap untuk dikemas.

"Jadi sebelum kita jualan ke konsumen itu kita merasakan terlebih dahulu, ini layak nggak ya untuk konsumen. Kalau sudah mantap, kita kemas, kita packing," jelasnya.

Dalam pengemasan produk pun nggak boleh sembarangan. Ia mengatakan penjual harus memperhatikan kehigienisan, serta memastikan dengan teliti setiap detail dari packaging hingga ke pelabelan. Kemasan harus rapi dan bersih, kemudian tutup rapat agar tidak ada udara yang masuk, karena akan mempengaruhi daya tahan atau lama kadaluarsa dari jamu.

"Untuk packaging produk jamu itu, jamu itu kan sesuatu yang dikonsumsi oleh manusia. Jadi, packagingnya juga harus bagus, harus rapi, harus bersih. Jadi alumunium foil atau botol yang kita gunakan (harus) dipastikan bersih. Kalau (kemasan) baru itu wajib," tuturnya.

Tidak lupa untuk mengurus perizinan. Hal ini mengingat jamu adalah produk yang diperuntukkan untuk dikonsumsi, sehingga harus bersih, layak, dan memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Dijelaskannya, apabila produk sudah lolos untuk izin edar sebuah makanan, maka akan meningkatkan kepercayaan dari pembeli terhadap jamu yang dijual.

Dalam memasarkan produknya, penjual bisa memasarkannya secara online dengan memanfaatkan platform digital yang tersedia, seperti Instagram dan Facebook. Penjual juga bisa beriklan menggunakan layanan ads dari penyedia platform.

Lebih lanjut Rizky mengungkapkan dirinya telah menjadikan usaha jamu instan dan wedang uwuh sebagai bisnis sampingan sejak masih duduk di bangku sekolah. Sebelum pandemi, ia mampu menjual 10 pack jamu instan setiap hari, dengan omzet Rp 300 ribu.

Fryski (28) memetik bahan jamu di Desa Kiringan, Bantul, Selasa (16/2/2021).Fryski (28) memetik bahan jamu di Desa Kiringan, Bantul, Selasa (16/2/2021). Foto: Rifkianto Nugroho

Namun, setelah pandemi COVID-19 melanda, omzetnya mengalami kenaikan hingga lebih dari 50% dengan jumlah pesanan 1.000 pcs dan omzet terbesar mencapai Rp 1 juta per hari.

"Sebelum pandemi per hari Rp 300 ribu ke atas, setelah pandemi omzet terbesar sampai Rp 3 juta per bulan. Tapi pas waktu itu yang paling banyak 1 hari ada Rp 1 juta di awal-awal pandemi," paparnya.

Dijelaskan Rizky, produk jamu instan dan wedang uwuh buatannya tidak hanya dipasarkan ke area Yogyakarta dan sekitarnya, tapi juga ke Jakarta dan Kalimantan.

"Pengiriman baru ke Kalimantan sama Jakarta. Banyakan yang di daerah Yogya. Ada di Pajangan, Sleman," katanya. .

Untuk satu pack jamu instan berukuran 100 gr bisa dibeli dengan harga Rp Rp 14 ribu. Sementara untuk jamu instan varian jahe merah dihargai Rp 16 ribu. Sebab, menurutnya bahan baku untuk membuat jahe merah terbilang cukup mahal. Lalu, untuk wedang uwuh berisi 10 pcs dijual dengan harga Rp 25 ribu.

Tidak hanya jamu instan dan wedang uwuh, ia pun menyediakan produk olahan jamu lainnya, seperti sirup. Untuk sebotol sirup berukuran 250 ml bisa didapatkan dengan harga Rp 18 ribu.

Rizky merupakan nasabah KUR dari BRI. Ia meminjam Rp 10 juta untuk mengembangkan produksi jamu instan miliknya.

"Untuk modal dalam pembuatan jamu, dalam usaha jamu. Kebanyakan buat modal, Rp 1 juta atau Rp 2 juta untuk disimpan," tuturnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia yang mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, ikuti terus beritanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(akn/hns)